Apakah Ini Pertanda Allah Sedang Menyapa Hati Kita?

Ali Zain Aljufri - Malam itu terasa hening. Suara angin terdengar sayup-sayup seperti bisikan yang tidak jelas asalnya. Seorang pemuda duduk termenung di beranda masjid; masjid sederhana dengan lampu neon yang kadang berbunyi berisik. Matanya menatap langit, mencoba menemukan jawaban di antara bintang-bintang. Dalam hatinya, penyesalan tumbuh subur. Dengan nada lirih, hampir tak terdengar, ia bertanya:
“Ya Allah… apakah ini teguran dari-Mu?”
Tidak ada jawaban yang datang. Hanya ada perasaan pahit di dalam dada, seolah ada sesuatu yang hilang dan sulit untuk diterima. Namun, justru dari rasa pahit itulah perjalanan spiritual seringkali dimulai. Banyak umat Muslim mengalami momen serupa; saat hidup terasa berat, tujuan terasa kabur dan hati terasa jauh dari kedamaian. Mungkin inilah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan bertanya dengan lebih tenang, lebih jujur: Apakah Allah sedang memberikan isyarat padaku?
Tulisan ini mencoba membahas tanda-tanda halus tersebut, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai refleksi Islami yang menenangkan, ala tradisi Nahdlatul Ulama’ (NU) yang sarat akan kearifan. Diskusi spiritual yang mudah dipahami, menenteramkan dan relevan bagi siapa saja yang merasa kurang baik secara batiniah.
1. Mengapa Allah Memberikan Isyarat?

Dalam tradisi keilmuan NU, para ulama‘ sering menjelaskan bahwa Allah memberikan isyarat bukan untuk menghukum, melainkan untuk membimbing kembali. Isyarat-Nya bukan cambuk yang menyakitkan tanpa tujuan, melainkan sentuhan lembut (yang kadang terasa kurang nyaman) agar kita kembali mengingat-Nya. Ibnu ‘Atho’illah dalam Al-Hikam menyampaikan:
“Terkadang, Allah memberikan ujian bukan karena Dia ingin menyiksamu, tetapi agar Dia menarikmu kembali kepada-Nya.”
Inilah esensi dari setiap isyarat Allah: mengarahkan kita kembali ke jalan yang benar, ketika kita terlalu jauh atau terlalu sibuk dengan urusan duniawi.
Lalu, apa saja tanda-tanda tersebut?
1. Hati yang Tiba-Tiba Resah Tanpa Alasan

Pernahkah merasakan keresahan yang sulit dijelaskan? Hati terasa bergetar pelan namun terus-menerus. Pikiran menjadi tidak fokus. Bahkan tidur pun tidak memberikan ketenangan.
Para ulama’ sering menyebut hal ini sebagai tanda bahwa Allah sedang ingin diperhatikan. Allah ingin kita kembali melihat kondisi batin kita. Bukan hanya resah karena masalah pekerjaan atau kehidupan, tetapi resah yang terasa seperti ada yang kurang meskipun semuanya terlihat baik-baik saja.
Keresahan spiritual sering muncul ketika:
- Ibadah wajib mulai ditinggalkan atau dikerjakan dengan tergesa-gesa
- Dzikir mulai jarang dilakukan
- Dosa kecil dilakukan berulang kali
- Kita terlalu larut dalam urusan dunia
Keresahan semacam ini bukan untuk membuat kita takut, melainkan sebagai ajakan lembut: Kembalilah kepada-Ku.
2. Masalah yang Datang Silih Berganti

Para ulama NU sering membedakan antara musibah dan mu’adzdzabah (sesuatu yang benar-benar menghukum). Masalah yang datang bertubi-tubi bisa jadi pertanda bahwa Allah sedang memberikan isyarat, terutama jika ada kaitannya dengan tindakan kita yang kurang tepat. Contohnya:
- Hubungan menjadi renggang setelah kita mengabaikan kewajiban terhadap keluarga.
- Rezeki menjadi sulit setelah terbiasa berfoya-foya tanpa bersyukur.
- Usaha menjadi tidak lancar setelah kita mulai meninggalkan kejujuran.
Dalam refleksi Islami, masalah yang terus muncul biasanya mengajak kita untuk introspeksi diri: Apakah ada perbuatan atau kebiasaan baik yang dulu kulakukan, tetapi sekarang sudah kutinggalkan? Apakah ada kesalahan yang kubiarkan begitu saja?
Masalah tidak hanya bertujuan untuk menyiksa. Ia hadir seperti seorang dokter: rasanya mungkin pahit, tetapi menyembuhkan.
3. Kenikmatan yang Berkurang Secara Perlahan

Terkadang Allah tidak memberikan isyarat melalui kegelisahan. Terkadang, Allah memberikan isyarat dengan perlahan mengurangi nikmat yang dulu sering kita abaikan.
Tanda ini seringkali tidak kita sadari karena hilangnya terjadi secara bertahap:
- Dulu hati ringan untuk berbuat baik, sekarang terasa malas dan berat.
- Dulu mudah bersyukur, sekarang semuanya terasa kurang.
- Dulu rajin sholat malam, sekarang bangun subuh pun terasa sulit.
Hilangnya nikmat spiritual seperti ini adalah bentuk teguran yang sangat halus. Allah tidak langsung memadamkan cahaya hati, tetapi meredupkannya sedikit demi sedikit agar kita tersadar dan berusaha menyalakannya kembali.
4. Do’a yang Terasa Tidak Sampai

Sebagian orang berpikir bahwa do’a mereka tidak didengar. Padahal, Allah selalu mendengar, hanya saja Ia ingin kita menjadi lebih lembut, lebih tulus, lebih rendah hati. Bagaimana rasanya?
- Do’a terasa hambar
- Tidak yakin
- Atau seperti tidak ada perubahan apa pun
Isyarat Allah dalam bentuk ini mendorong kita untuk memperbaiki adab berdo’a: merendahkan hati, memperbanyak istighfar, berdiri lebih khusyuk dan merenungkan kembali hubungan kita dengan-Nya.
5. Mudah Marah, Sensitif dan Sulit Mengendalikan Diri

Dalam diskusi spiritual ala NU, banyak jama’ah yang mengeluhkan masalah emosional. Dan seringkali, para ulama’ menjawab dengan bijak:
“Jika hati jauh dari Allah, hawa nafsu akan mengambil alih ruang tersebut.”
Mudah tersinggung. Mudah curiga. Mudah marah. Mudah merasa lelah.
Ini bukan hanya masalah psikologis (meskipun itu juga penting) tetapi juga pertanda bahwa hati sedang kehilangan keseimbangan spiritual. Hawa nafsu yang menguasai adalah bentuk teguran agar kita kembali mengisi ulang diri dengan ibadah dan refleksi.
6. Merasa Jauh dari Al-Qur’an dan Majelis Ilmu

Dulu nyaman, sekarang canggung? Hati Anda sedang butuh obat! Dulu membaca Al-Qur’an membuat hati merasa tenang. Namun, tiba-tiba membacanya menjadi terasa berat. Ingin ikut kajian, tetapi selalu tertunda oleh alasan-alasan kecil.
Ketika cahaya iman meredup, hal-hal yang baik terasa berat. Ini adalah salah satu tanda teguran Allah yang sangat umum, namun sering dianggap remeh. Padahal, inilah alarm spiritual yang paling jelas:
“Ketika kebaikan terasa berat, itu bukan karena kebaikannya yang berubah, tetapi karena hati kita yang butuh dirawat.”
7. Allah Mengirimkan Orang-Orang yang Menyentil Hati Kita

Terkadang, teguran Allah hadir melalui orang lain:
- Nasihat spontan dari teman yang biasanya tidak pernah menasihati.
- Ucapan orang tua yang tiba-tiba terasa menusuk.
- Ceramah di media sosial yang terasa pas sekali.
- Bahkan komentar pedas dari orang yang tidak dikenal.
Dalam tradisi NU, ini sering disebut taujih, yaitu sentuhan kecil dari Allah yang disampaikan melalui lisan manusia.
Jika kita merasa ucapan seseorang tepat mengenai sasaran, jangan buru-buru tersinggung. Bisa jadi Allah sedang berbicara melalui orang tersebut.
8. Rindu untuk Berubah, tapi Tidak Tahu Harus Memulai dari Mana

Isyarat Allah sering kali tidak hanya berupa rasa sakit. Terkadang, ia juga berupa kerinduan. Kerinduan untuk kembali seperti dulu. Kerinduan untuk merasa dekat dengan Allah. Kerinduan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Jika Anda merasakan:
- Saya ingin berubah.
- Saya ingin kembali ke jalan yang benar.
- Saya rindu ketenangan.
...itu sebenarnya adalah teguran sekaligus undangan. Tidak semua orang diberikan rasa rindu seperti itu. Itu adalah anugerah, bukan hukuman.
2. Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Merasa Mendapat Isyarat?

Dalam bimbingan keimanan ala NU, respons yang paling dianjurkan adalah kembali secara bertahap, tidak perlu memaksakan diri terlalu keras. Allah menyukai proses, bukan kepanikan.
Lakukan langkah-langkah sederhana berikut:
- Perbanyak istighfar, minimal 100 kali sehari.
- Ibadah wajib dilaksanakan tepat waktu, meskipun belum bisa melakukan yang sunnah.
- Berikan sedekah kecil, sebagai penyejuk hati.
- Datang ke majelis ilmu, meskipun hanya duduk diam.
- Sampaikan secara jujur kepada Allah tentang apa yang sedang Anda rasakan.
3. Kesimpulan: Isyarat adalah Bentuk Kasih Sayang, Bukan Kemarahan

Tanda-tanda teguran Allah hadir dengan cara yang sangat personal. Terkadang melalui kegelisahan. Terkadang melalui hilangnya kenikmatan. Terkadang melalui orang lain. Bahkan, terkadang melalui kerinduan yang manis. Intinya adalah satu:
Allah ingin Anda kembali!
Jika Anda membaca artikel ini sambil menarik napas panjang, sambil merasa ini seperti tentang saya, mungkin itu bukanlah sebuah kebetulan. Mungkin Allah sedang memberikan isyarat yang sangat halus. Dengan cara yang hanya Anda yang bisa mengerti.
Pertanyaannya sekarang: Jika ini benar isyarat dari-Nya, langkah apa yang akan Anda ambil hari ini untuk kembali mendekat kepada-Nya?
Post a Comment