Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px

Apakah Kelelahan Dapat Dijadikan Alasan untuk Beristirahat dari Aktivitas Dakwah?

Table of Contents
Inara Rusli

Ali Zain Aljufri - Bayangkanlah senja yang mulai merayap. Seorang muslimah, seorang aktivis dakwah yang berdedikasi, duduk sejenak di pojok masjid yang tenang, usai rangkaian kegiatan pengajian yang melelahkan. Kerudungnya masih tertata rapi, senyumnya tetap menghiasi wajahnya, namun di balik tatapannya tersirat kelelahan yang mendalam. Sejak pagi, ia telah mengajar dengan penuh semangat, mengurus keluarganya dengan cinta, dan kemudian berpindah dari satu majelis ilmu ke majelis lainnya, menebarkan kebaikan. Dalam lubuk hatinya, sebuah pertanyaan muncul, sebuah pertanyaan yang terasa berdosa namun sekaligus sangat manusiawi: Bolehkah aku beristirahat sejenak? Apakah kelelahan dalam berdakwah ini adalah pertanda bahwa imanku sedang melemah?

Pertanyaan ini mungkin pernah menghampiri benak banyak aktivis dakwah, terutama para muslimah yang menjadi tulang punggung pergerakan ini, yang seringkali memikul beban peran ganda. Dakwah seringkali dipandang sebagai perjuangan yang tak kenal henti, seolah-olah berhenti sejenak saja sama dengan sebuah kemunduran. Namun, apakah benar Islam menuntut kita untuk terus bergerak tanpa henti, tanpa memberikan ruang untuk memulihkan diri? Ataukah justru Islam, dengan prinsip keseimbangannya yang khas, memberikan ruang bagi istirahat yang berkualitas, agar dakwah yang kita lakukan tetap hidup, relevan dan dapat dilakukan dalam jangka panjang?

1. Dakwah: Sebuah Perjalanan Panjang yang Membutuhkan Ketahanan

Inara Rusli

Dalam tradisi Islam yang kaya, dakwah bukanlah sekadar sebuah aktivitas atau tugas, melainkan lebih dari itu, ia adalah sebuah jalan hidup, sebuah komitmen yang berkelanjutan. Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat yang mulia ini dengan jelas menegaskan bahwa dakwah adalah sebuah panggilan ilahi, sebuah amanah yang harus kita emban dengan sebaik-baiknya. Namun, ada satu hal yang menarik untuk diperhatikan, Allah Subhannahu Wa Ta’ala menghubungkan dakwah dengan hikmah. Hikmah tidak akan lahir dari jiwa yang tertekan dan dipaksa untuk melampaui batas kemampuannya. Hikmah justru tumbuh subur dari hati yang jernih, pikiran yang tenang, dan tubuh yang senantiasa terjaga kesehatannya.

Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah ala NU, dakwah dipahami sebagai sebuah proses yang bertahap, penuh dengan kebijaksanaan dan sangat mempertimbangkan kondisi dari pelaku dakwah maupun objek dakwah itu sendiri. Dakwah bukanlah sebuah sprint yang menguras seluruh energi dalam waktu singkat. Ia adalah sebuah maraton, yang membutuhkan strategi, kesabaran dan kemampuan untuk menjaga diri agar tetap berada dalam kondisi prima.

2. Kelelahan dalam Berdakwah: Antara Ujian dan Sebuah Sinyal Peringatan

Inara Rusli

Merasa lelah saat menjalankan aktivitas dakwah bukanlah sebuah dosa yang besar. Ia adalah bagian dari fitrah manusia, sebuah pengingat bahwa kita memiliki keterbatasan sebagai makhluk. Rasūlullāh ﷺ sendiri mengakui adanya keterbatasan pada diri manusia. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:

إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari)

Hadits ini seringkali dikutip oleh para ulama’ NU untuk menegaskan betapa pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup kita. Tubuh kita bukanlah sekadar alat yang bisa dieksploitasi tanpa batas, melainkan sebuah amanah yang harus kita jaga dan rawat dengan baik. Ketika tubuh mulai memberikan sinyal kelelahan, Islam tidak memerintahkan kita untuk mengabaikannya atau menutup telinga, melainkan untuk mendengarkannya dengan penuh tanggung jawab dan mencari solusi yang tepat.

Kelelahan dalam berdakwah dapat menjadi ujian kesabaran bagi kita, untuk melihat sejauh mana kita mampu bertahan dalam menghadapi tantangan. Namun, ia juga bisa menjadi sebuah tanda bahwa kita perlu menata ulang ritme kehidupan kita, mengatur ulang prioritas, dan mencari cara yang lebih efektif dalam berdakwah. Di sinilah kepekaan spiritual kita akan diuji. Apakah kita beristirahat semata-mata untuk memulihkan tenaga agar dapat kembali berdakwah dengan lebih baik, ataukah kita berhenti karena telah kehilangan tujuan dan arah yang jelas?

3. Istirahat dalam Islam: Bukanlah Kemunduran, Melainkan Sebuah Strategi yang Cerdas

Inara Rusli

Islam tidak memuliakan kelelahan yang sia-sia, kelelahan yang hanya akan membawa kita pada kehancuran dan keputusasaan. Justru sebaliknya, konsep istirahat dalam Islam sangat jelas dan memiliki tujuan yang mulia. Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS. An-Naba’: 9)

Tidur, jeda, rehat dan segala bentuk istirahat lainnya bukanlah tanda kemalasan atau kelemahan. Ia adalah bagian dari sunnatullah, hukum alam yang telah ditetapkan oleh Allah Subhannahu Wa Ta’ala. Para Masyayikh NU seringkali menekankan prinsip tawazun (keseimbangan) dalam segala aspek kehidupan: seimbang antara ibadah dan urusan duniawi, antara amal dan rehat, antara semangat dan kemampuan diri.

Beristirahat dari aktivitas dakwah diperbolehkan, bahkan dianjurkan, dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti:

  1. Ketika kelelahan fisik dan mental sudah mulai mengganggu kualitas ibadah dan akhlak kita. Jika kita sudah tidak bisa lagi sholat dengan khusyuk, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, atau berinteraksi dengan orang lain dengan ramah dan sabar, maka inilah saatnya untuk beristirahat.
  2. Ketika dakwah mulai dijalani tanpa keikhlasan di hati, hanya karena adanya tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Dakwah yang dilakukan tanpa keikhlasan hanya akan menjadi beban yang berat dan tidak akan memberikan manfaat yang besar.
  3. Ketika tubuh dan jiwa benar-benar membutuhkan pemulihan agar tidak jatuh pada jurang keputusasaan dan depresi. Kesehatan mental dan fisik adalah modal utama bagi seorang da’i. Jika kita tidak menjaganya dengan baik, maka kita tidak akan bisa memberikan kontribusi yang optimal dalam dakwah.

Namun, perlu diingat bahwa istirahat yang sehat bukanlah berarti memutus hubungan kita dengan Allah Subhannahu Wa Ta’ala dan melupakan kewajiban kita sebagai seorang muslim. Justru sebaliknya, istirahat bisa menjadi ruang yang berharga untuk melakukan kontemplasi, merenungkan kembali niat kita, memperbarui semangat, dan menata ulang orientasi dakwah kita agar lebih efektif dan relevan.

4. Menentukan Batas yang Sehat: Istirahat yang Produktif atau Lari dari Tanggung Jawab?

Inara Rusli

Pertanyaan penting yang harus kita renungkan bukanlah sekadar bolehkah kita beristirahat?, melainkan bagaimana caranya kita beristirahat dengan benar dan produktif? Dalam tradisi NU, terdapat sebuah kaidah yang sangat relevan dengan permasalahan ini:

اَلْعَمَلُ الدَّائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْكَثِيرِ الْمُنْقَطِعِ

“Amalan yang sedikit tetapi dilakukan secara terus-menerus lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi terputus-putus”.

Artinya, dakwah tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang besar dan melelahkan. Kadang-kadang, sebuah senyuman yang tulus, sebuah tulisan reflektif yang sederhana, atau sebuah do’a yang dipanjatkan di sepertiga malam yang sunyi, bisa menjadi bentuk dakwah yang sangat bermakna dan memberikan dampak yang besar bagi orang lain.

Istirahat yang kita lakukan akan menjadi tidak sehat dan kontraproduktif jika:

  1. Dijadikan sebagai alasan pembenaran untuk menjauhkan diri secara total dari nilai-nilai dakwah dan prinsip-prinsip Islam.
  2. Berubah menjadi sebuah sikap apatis dan acuh tak acuh terhadap problematika yang dihadapi oleh umat.
  3. Membuat kita merasa nyaman dalam zona nyaman kita, tanpa adanya keinginan dan upaya untuk kembali bangkit dan memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri) secara berkala. Tanyakan pada diri kita sendiri: Apakah istirahat yang saya ambil ini akan mendekatkan diri saya kepada misi dakwah, atau justru menjauhkan saya darinya?

5. Muslimah Penggerak Dakwah: Berdakwah dengan Tubuh dan Jiwa yang Terjaga

Inara Rusli

Bagi para muslimah yang aktif dalam kegiatan dakwah, isu ini terasa lebih kompleks dan menantang. Peran sebagai seorang istri, ibu, anggota masyarakat dan seorang da’iyah (penyeru kebaikan) seringkali bertumpuk menjadi satu, sehingga menimbulkan tekanan yang besar. NU sangat menghargai dan memuliakan peran perempuan dalam dakwah, namun bukan berarti mengorbankan kesehatan fisik dan mental, serta kehormatan diri mereka.

Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha adalah contoh nyata seorang muslimah yang sukses dalam berdakwah tanpa mengabaikan kesehatannya. Beliau aktif berdakwah, meriwayatkan hadits, mengajar, memberikan nasihat, namun juga sangat memahami kapan beliau harus beristirahat, menjaga jarak dan memulihkan diri. Dakwah yang beliau lakukan berumur panjang dan memberikan dampak yang besar bagi umat karena beliau mampu menjaga keseimbangan dalam hidupnya.

Beristirahat bagi para muslimah penggerak dakwah bukanlah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap dakwah, melainkan sebuah ikhtiar (usaha) untuk menjaga keberlanjutan perjuangan mereka. Sebab, dakwah yang panjang dan berkelanjutan membutuhkan seorang da’iyah (penyeru kebaikan) yang sehat, baik secara lahir maupun batin.

6. Dakwah yang Bernafas Panjang: Sebuah Refleksi

Inara Rusli

Dalam tradisi tanya jawab keislaman ala NU, seringkali ditekankan bahwa Islam bukanlah agama yang memberatkan dan menyulitkan umatnya. Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat yang mulia ini adalah sebuah pelukan hangat bagi para pejuang dakwah yang sedang merasa lelah dan putus asa. Dakwah tidak menuntut kita untuk menjadi sebuah mesin yang bekerja tanpa henti. Ia mengajak kita untuk menjadi manusia yang sadar akan keterbatasan dirinya, seimbang dalam segala aspek kehidupan, dan senantiasa menebarkan kasih sayang kepada sesama.

Maka, ketika rasa lelah dalam berdakwah mulai menghampiri, jangan terburu-buru menyalahkan diri sendiri. Duduklah sejenak dengan tenang, tarik napas dalam-dalam, dan bertanyalah pada hati nurani kita: Apa sebenarnya yang perlu saya pulihkan? Apa yang perlu saya evaluasi? Dan bagaimana caranya agar saya bisa kembali berdakwah dengan lebih baik dan lebih bermakna?

7. Kesimpulan: Berhenti Sejenak untuk Melangkah Lebih Jauh

Inara Rusli

Jadi, bolehkah kelelahan dijadikan sebagai alasan untuk beristirahat dari aktivitas dakwah? Jawabannya adalah: Boleh, bahkan sangat perlu, selama istirahat tersebut menjadi jembatan untuk kembali berdakwah dengan semangat yang baru, bukan menjadi pintu untuk pergi dan meninggalkan tanggung jawab. Islam, dengan prinsip keseimbangan yang diajarkan oleh para ulama’ NU, mengajarkan kepada kita bahwa dakwah adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan jeda, bukan sebuah pelarian.

Istirahat dalam Islam bukanlah sebuah tanda kekalahan, melainkan sebuah strategi yang cerdas agar semangat dakwah kita tetap menyala dan memberikan manfaat yang besar bagi umat. Sebab, dakwah bukanlah tentang seberapa sering kita tampil di depan publik, melainkan tentang seberapa tulus dan berkelanjutan kita berjalan di jalan Allah Subhannahu Wa Ta’ala.

Kini, pertanyaannya kembali kepada diri kita masing-masing: Apakah istirahat yang kita ambil hari ini akan membuat kita kembali berdakwah dengan hati yang lebih hidup dan penuh semangat esok hari? Semoga Allah Subhannahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita semua.

Ali Zain Aljufri
Ali Zain Aljufri Motivator di Komunitas Ngopi Cangkir

Post a Comment

Ruang Iklan 300 px × 50 px
Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px