Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px

Bagaimana Seharusnya Kita Bersikap Terhadap Orang yang Terus Menyakiti Kita Menurut Ajaran Islam?

Table of Contents
Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Ali Zain Aljufri - Pernahkah Anda merasa lelah bukan karena pekerjaan, tapi karena seseorang yang terus-menerus membuat hati Anda terluka? Mungkin Anda pernah mendengar nasihat klise seperti; “Sabar saja!” atau “Maafkan dia!” Namun, dalam kehidupan nyata, nasihat ini tidak semudah yang dikira. Luka dan rasa sakit itu nyata, apalagi jika Anda masih harus berinteraksi dengan orang tersebut.

Kisah ini dialami banyak orang. Konflik dalam hubungan, baik dengan keluarga, teman atau rekan kerja, sering kali membuat kita bertanya: Bagaimana Islam mengatur cara kita menghadapi orang yang bersikap buruk pada kita? Apakah memaafkan berarti kita harus terus menerus menerima perlakuan yang menyakitkan? Apakah kita harus bertahan dalam situasi yang tidak sehat demi menjaga akhlak yang baik?

Tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang bijaksana, berdasarkan pada tuntunan akhlak Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah (Aswaja NU), yang menekankan pada sikap moderat, seimbang dan penuh hikmah.

Mari kita mulai dengan pemahaman yang paling mendasar!

1. Islam Mengajarkan Kebaikan, Bukan Menjadi Korban

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Kita sering mendengar tentang pentingnya sabar, tapi jarang dibahas bahwa sabar tidak berarti kita harus terus-menerus menjadi korban. Dalam tradisi Aswaja NU, sabar harus disertai dengan akal sehat dan pertimbangan manfaat. Jadi, menghadapi orang yang bersikap buruk bukan berarti kita harus membiarkan diri kita terus disakiti.

Allah Subhannahu Wa Ta’ala memuji hamba-Nya yang sabar, tapi Dia juga memerintahkan kita untuk menjaga diri dan kehormatan kita. Rasūlullāh ﷺ pun tidak pernah membiarkan penindasan terjadi tanpa batas. Beliau memaafkan, tapi juga menetapkan batasan yang jelas.

Dalam Islam, hubungan sosial itu seimbang: lembut saat diperlukan, tegas ketika harus tegas. Hal inilah yang sering kita lupakan.

2. Prinsip Tawassuth NU: Menemukan Jalan Tengah dalam Menghadapi Luka

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Dalam Nahdlatul Ulama’, penyelesaian konflik berpedoman pada prinsip utama Aswaja:

  1. Tawassuth (moderat)
  2. Tawazun (seimbang)
  3. Tasāmuh (toleran)
  4. Ta’ādul (adil)

Prinsip-prinsip ini relevan tidak hanya dalam politik atau teologi, tapi juga dalam menghadapi masalah pribadi.

Tawassuth mengajarkan kita untuk tidak bersikap ekstrem. Tidak ekstrem dalam membalas, tapi juga tidak ekstrem dalam memaafkan sampai mengorbankan diri sendiri. NU mengajarkan bahwa setiap hubungan membutuhkan keseimbangan antara rohmah (kasih sayang) dan hikmah (kebijaksanaan).

3. Mengenali Pola Buruk dan Bukan Sekadar Emosi Sesaat

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Seringkali kita sulit membedakan antara orang yang berbuat salah karena khilaf dan orang yang memang memiliki kecenderungan untuk menyakiti (toxic).

Orang yang khilaf:

  • Menyesal dan berusaha memperbaiki diri
  • Tidak sengaja menyakiti
  • Tidak mengulangi kesalahan setelah dinasihati

Orang yang bersikap Buruk (toxic):

  • Menyalahkan kita saat kita tersakiti
  • Menuntut untuk dimengerti tanpa berusaha memahami
  • Pola menyakiti yang berulang
  • Tidak peduli dengan dampak perbuatannya

Islam memang memperhatikan niat, tapi Aswaja NU juga menekankan pentingnya mempertimbangkan akibat. Jika dampaknya jelas merusak diri kita, maka kita perlu waspada.

4. Prinsip Ihsan NU: Berbuat Baik, tapi Jangan Sampai Merugikan Diri Sendiri

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Dalam akhlak Aswaja, ihsan (berbuat baik) adalah perbuatan yang sangat mulia. Namun, ihsan tidak boleh disalahartikan sebagai pembenaran untuk dieksploitasi. Ihsan harus ditujukan untuk kebaikan yang nyata, bukan untuk mempertahankan hubungan yang tidak sehat.

Para Masyayikh NU sering menekankan kaidah fiqih:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”

Jika seseorang terus menyakiti kita itu adalah kerusakan, bukan kebaikan. Mencegah kerusakan adalah kewajiban kita.

5. Memaafkan dalam Islam: Bukan Berarti Harus Selalu Berbaikan

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Dalam Islam:

  • Memaafkan adalah perbuatan hati; tidak harus selalu kembali menjalin hubungan.
  • Memaafkan berarti melepaskan dendam; bukan berarti memaksa diri melupakan bahwa seseorang berbahaya.
  • Memaafkan adalah ibadah; menjaga diri sendiri juga adalah ibadah.

NU menekankan keseimbangan antara memaafkan dan menjaga batasan:

Kita membuka pintu maaf, tapi tidak membuka pintu bagi kezaliman untuk masuk kembali.

Ini bukan sikap keras, tapi sikap yang sehat.

6. Tegas: Bentuk Akhlak, Bukan Kekerasan

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Banyak yang salah mengartikan bahwa menjadi seorang Muslim berarti harus selalu bersikap lembut. Padahal, Rasūlullāh ﷺ juga bisa bersikap tegas ketika diperlukan.

  • Ketegasan bukan kemarahan.
  • Ketegasan bukan dendam.
  • Ketegasan adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri agar kita tetap menjadi pribadi yang utuh.

Dalam perspektif NU:

  • Ketegasan adalah bagian dari al-‘iffah (menjaga kehormatan diri).
  • Ketegasan adalah siyasah syar’iyyah personal, yaitu mengatur hubungan agar tetap berada dalam kebaikan.
  • Ketegasan adalah menutup pintu keburukan.

Jadi, menetapkan batasan saat menghadapi orang yang bersikap buruk adalah tindakan yang terpuji.

7. Menjaga Jarak: Sunnah Sosial yang Sering Dilupakan

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Dalam sejarah dakwah, Rasūlullāh pernah menjauhi beberapa sahabat (seperti Ka’ab bin Malik) sebagai bentuk ta’dib (pendidikan sosial). Tujuannya bukan untuk menghukum, tapi untuk memberikan ruang bagi mereka untuk merenung.

  • Menjaga jarak bukanlah dosa.
  • Menjaga jarak adalah strategi.

Jika kehadiran seseorang membuat kita:

  • Kehilangan harga diri
  • Kehilangan ketenangan
  • Kehilangan kedekatan pada Allah

Maka menjauh adalah bentuk hifz an-nafs (menjaga jiwa) yang merupakan salah satu tujuan syari’at.

8. Berbuat Baik Tanpa Merugikan Diri Sendiri: Kuncinya Ada pada Niat dan Batasan

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Islam selalu menganjurkan untuk berbuat baik, tapi tidak pernah menyuruh kita berbuat baik sampai kita sendiri celaka. Dalam fiqih sosial NU, batasan berbuat baik selalu diatur agar tidak membahayakan diri sendiri.

Berikut tips praktis menghadapi orang yang bersikap buruk sesuai dengan tuntunan Aswaja:

  1. Do’akan, tapi jangan biarkan diri dipermainkan: Do’a adalah cara kita menjaga hati tetap bersih.
  2. Jangan membalas dengan cara yang sama: Kita bertindak karena Allah, bukan karena mereka.
  3. Respons seperlunya: Tidak perlu menjelaskan panjang lebar kepada orang yang tidak mau mengerti.
  4. Prioritaskan kesehatan jiwa: Orang yang jiwanya terluka sulit beribadah dengan khusyuk.
  5. Tetap sopan, tapi tidak perlu dekat: Akhlak tidak sama dengan kedekatan emosional.

9. Konsultasi dengan Ulama’ atau Kiai: Tradisi yang Perlu Dilestarikan

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Salah satu tradisi NU yang penuh berkah adalah tabarruk dan istisyārah, yaitu berkonsultasi dengan orang yang berilmu. Ketika hati kita sedang gundah karena suatu masalah, berbicara dengan Kiai atau Nyai dapat memberikan kita perspektif yang lebih luas dan menenangkan.

Tujuannya bukan untuk mencari pembenaran, tapi untuk mencari kebijaksanaan.

Nasihat ulama’ seringkali lebih lembut dari yang kita kira, dan lebih relevan daripada teori-teori modern. Keduanya tidak bertentangan, tapi saling melengkapi.

10. Do’a, Dzikir dan Ruang Spiritual adalah Obat Luka

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Memaafkan mungkin membutuhkan waktu yang lama. Menjaga jarak mungkin perlu dilakukan. Tapi hati kita tetap membutuhkan tempat untuk kembali: dzikir, sholawat dan do’a.

Amalan sederhana yang sering diajarkan para Masyayikh NU untuk meredakan luka:

  • Istighfar 100x
  • Sholawat 100x
  • Membaca Surat Al-Insyirah
  • Mendo’akan orang yang menyakiti dengan kalimat:

    اَللّٰهُمَّ اشْرَحْ صَدْرَهُ (هَا) فِي وَاشْرَحْ صَدْرِي

    “Ya Allah, lapangkan hatinya dan lapangkan hatiku.”

Do’a bukanlah tanda kelemahan, tapi tanda keberanian untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan yang lain.

11. Kesimpulan: Akhlak adalah Keseimbangan, Bukan Pengorbanan yang Sia-Sia

Mustakim Sukito Hadi Wijoyo

Menghadapi orang yang terus menyakiti kita menurut Islam bukan hanya tentang memaafkan, bertahan, atau membalas. Ajaran Aswaja NU memberikan jalan tengah yang lebih manusiawi:

  • Berbuat baik tanpa merusak diri sendiri
  • Lembut tanpa kehilangan harga diri
  • Memaafkan tanpa membiarkan diri disakiti
  • Menjaga batasan tanpa menanam dendam

Ingatlah, hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dengan terus mengobati luka yang sama dari orang yang sama. Islam hadir membawa rahmat untuk seluruh alam, termasuk rahmat untuk diri Anda sendiri.

Jika hari ini ada seseorang yang terus melukai Anda, pertanyaannya bukan lagi Apa yang harus saya lakukan untuk dia? Tapi apa yang harus saya lakukan untuk menjaga diri saya tetap dekat dengan Allah?

Menurut Anda, apa langkah pertama yang paling bijaksana untuk Anda lakukan hari ini?

Ali Zain Aljufri
Ali Zain Aljufri Motivator di Komunitas Ngopi Cangkir

Post a Comment

Ruang Iklan 300 px × 50 px
Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px