Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px

Rezeki yang Tersembunyi: Berkah yang Sering Terlupakan

Table of Contents
Kanjeng Bani Grojogan

Ali Zain Aljufri - Di suatu pagi yang tenang, seorang penambal ban bernama Pak Bani duduk di depan bengkel sederhananya. Gubuk kecil itu terletak di pinggir jalan yang selalu ramai. Pagi itu terasa berbeda. Langit masih dihiasi warna oranye, udara terasa sejuk usai hujan semalam, tetapi wajah Pak Bani terlihat sendu. Ia mengusap tangannya yang kasar dan menghela napas panjang.

Biasanya, musim hujan membawa banyak pelanggan bagi Pak Bani. Sayangnya, beberapa hari belakangan ini, keadaannya tidak begitu baik. Jalanan tampak lengang, dan sudah dua hari berlalu tanpa penghasilan berarti. Tabungannya semakin menipis, sementara kebutuhan hidup terus berdatangan.

“Kenapa rezekiku terasa berat akhir-akhir ini?”, gumamnya dalam hati, sambil menatap ban-ban bekas yang bersandar dengan lesu.

Saat Pak Bani sedang merenung, tiba-tiba keponakan yang masih kecil datang menghampiri sambil membawa segelas teh hangat dan beberapa pisang goreng.

“Ini untuk Pak Puh, masih panas”, ucapnya dengan senyum polos. Senyuman itu menyentuh hati Pak Bani, memberikan kehangatan dan kelembutan.

Seketika, Pak Bani menyadari sesuatu: pagi yang damai, anak yang sehat, tubuh yang masih kuat untuk bekerja dan orang-orang yang melewati bengkelnya; semua itu adalah rezeki yang sering ia lupakan.

Kisah Pak Bani mencerminkan kehidupan banyak dari kita. Kita sering menunggu hal-hal besar terjadi, sampai lupa menghitung berkat-berkat kecil yang Allah berikan setiap hari. Kita terlalu fokus pada kekurangan, hingga tak mampu melihat berkah yang ada di depan mata.

Mari kita belajar mengenali rezeki yang tersembunyi ini, yaitu nikmat Allah yang selalu ada di dekat kita, namun sering kita abaikan.

1. Mengapa Kita Sering Kurang Menyadari Rezeki yang Tersembunyi?

Kanjeng Bani Grojogan

Kita hidup di era yang serba cepat, di mana kesuksesan kerap diukur dari materi, seperti pendapatan, properti, gaji dan harta. Padahal, agama telah lama mengingatkan:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ

“Jika kamu mencoba menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu.” (QS. Ibrahim: 34)

Kita cenderung lebih mudah mengingat apa yang hilang, daripada mensyukuri apa yang masih ada.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa kita sering mengabaikan nikmat Allah yang tak terlihat:

  1. Kita Menganggap Uang adalah Satu-satunya Rezeki. Padahal, rezeki itu sangat luas. Tidak semua rezeki datang dalam bentuk uang atau angka.
  2. Kita Menganggap Hal-Hal Sehari-Hari sebagai Sesuatu yang Biasa. Bangun tidur, bisa berjalan ke tempat kerja, atau bernapas di pagi hari adalah karunia, bukan sesuatu yang otomatis terjadi begitu saja.
  3. Kita Terjebak dalam Perbandingan dengan Orang Lain. Melihat tetangga sukses, teman naik jabatan, atau orang lain yang terlihat lebih berada, sering membuat kita lupa akan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
  4. Kita Kurang Melatih Diri untuk Bersyukur. Bersyukur adalah kemampuan yang perlu dilatih. Jika tidak, kemampuan ini akan melemah.

2. Jenis-Jenis Rezeki Tak Terlihat yang Sering Kita Lupakan

Kanjeng Bani Grojogan

Sekarang, mari kita buka mata lebih lebar. Rezeki tak terlihat hadir dalam berbagai bentuk yang dekat dengan kita. Kadang sangat kecil, namun dampaknya besar bagi kebahagiaan kita:

  1. Kesehatan: Tubuh yang sehat adalah anugerah yang tak ternilai. Tangan Pak Bani yang kuat menambal ban setiap hari adalah rezeki. Begitu juga dengan tubuh kita yang bekerja tanpa harus kita suruh. Jika ada satu bagian tubuh yang bermasalah, hidup kita akan terasa sulit. Ini membuktikan bahwa kesehatan adalah rezeki yang sangat berharga.
  2. Ketenangan Hati: Ketenangan hati tidak bisa dibeli di mana pun. Ini adalah rahmat dan anugerah dari Allah. Ada orang yang bisa tidur nyenyak meski kasurnya tipis, namun ada juga yang gelisah meski tidur di kasur mewah. Ketenangan adalah rezeki spiritual yang hanya bisa diberikan oleh Allah.
  3. Keluarga dan Orang-Orang Tersayang: Saat keponakan Pak Bani membawakan teh hangat dan memberikan senyuman tulus, itu bukan hanya sekadar momen biasa, melainkan sebuah rezeki. Jika kita memiliki orang-orang yang peduli, yang menunggu kita pulang dan yang mendo’akan kita, maka kita telah dikaruniai rezeki yang jauh lebih berharga daripada materi.
  4. Waktu dan Kesempatan: Diberi umur panjang, kesempatan untuk memperbaiki diri dan waktu untuk memperbaiki hubungan yang rusak adalah rezeki yang sering kita abaikan.
  5. Ilmu dan Hidayah: Jika hati kita tergerak untuk berbuat baik, menjauhi perbuatan buruk dan belajar agama, itu bukanlah kebetulan, melainkan hidayah. Hidayah adalah rezeki yang paling berharga.
  6. Perlindungan yang Tak Kita Sadari: Terkadang kita mengeluh karena terjebak macet, hujan, atau hal lain yang membuat kita terlambat. Padahal, bisa jadi Allah sedang melindungi kita dari bahaya yang tak terlihat. Sudah berapa banyak musibah yang Allah hindarkan dari kita tanpa kita sadari?
  7. Bertemu dengan Orang-Orang Baik: Setiap orang pasti pernah mengalami momen di mana pertemuan kecil mengubah hidup. Pelanggan yang datang ke bengkel Pak Bani dan memberikan proyek besar, teman lama yang membawa kabar baik, atau orang asing yang memberikan pertolongan tanpa mengharapkan imbalan. Pertemuan seperti itu adalah rezeki.

3. Mengubah Cara Pandang: Dari Kekurangan Menuju Kelimpahan

Kanjeng Bani Grojogan

Dengan bersyukur, kita diajarkan untuk melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.

1. Bersyukur Membuat Kita Lebih Bahagia

Hal ini telah dibuktikan oleh ilmu psikologi modern, dan agama telah mengajarkannya sejak lama.

2. Bersyukur Menarik Rezeki Baru

Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ

“Jika kalian bersyukur, pasti akan Aku tambah (nikmat) kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

Ini bukanlah sekadar teori, melainkan janji Allah yang pasti akan ditepati.

4. Langkah-Langkah Praktis untuk Menemukan Rezeki Tersembunyi dalam Hidup

Kanjeng Bani Grojogan

Agar perenungan ini membuahkan hasil nyata, kita bisa memulainya dengan:

  1. Menuliskan Tiga Hal yang Kita Syukuri Setiap Hari: Tidak perlu hal-hal besar, justru hal-hal kecil yang akan melatih kesadaran kita.
  2. Mengucapkan Alhamdulillah dengan Penuh Kesadaran: Bukan hanya sekadar ucapan otomatis, melainkan dari hati yang tulus.
  3. Mencari Hikmah di Balik Setiap Kejadian: Baik suka maupun duka, semua membawa pesan.
  4. Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain: Fokus pada nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
  5. Mendekatkan Diri kepada Allah: Syukur adalah cahaya, dan Allah adalah sumber cahaya itu.

5. Kisah Renungan: Berkah yang Luput dari Pandangan

Kisah Renungan: Berkah yang Luput dari Pandangan

Ada seorang pria miskin yang mengeluh karena merasa tidak diberi rezeki. Dalam mimpinya, seorang malaikat bertanya:

“Apa yang Allah berikan kepadamu hari ini?”

Ia menjawab,

“Tidak ada.”

Malaikat itu tersenyum lembut,

“Coba ceritakan apa yang kamu alami hari ini.”

Pria itu bercerita bahwa ia bangun dengan segar, diberi makanan oleh tetangganya, diberi tumpangan dan selamat dari jatuh saat hampir terpeleset.

Malaikat itu berkata:

“Itu semua adalah nikmat Allah, namun kamu menganggapnya sebagai hal biasa.”

Begitulah kehidupan kita. Rezeki hadir, tetapi seringkali kita tidak menyadarinya.

6. Kesimpulan

Kanjeng Bani Grojogan

Rezeki yang tersembunyi bukanlah ilusi. Ia nyata dan sering hadir dalam hidup kita. Melalui kesehatan, ketenangan, keluarga, kesempatan, perlindungan, dan hidayah, Allah melimpahkan nikmat-Nya tanpa henti.

Dengan bersyukur, kita diajarkan untuk tidak hanya melihat kekurangan, tetapi juga merayakan apa yang telah kita miliki. Ketika hati dipenuhi rasa syukur, hidup yang biasa akan terasa luar biasa, dan rezeki yang kecil akan tampak besar.

Pada akhirnya, pertanyaannya kembali kepada diri kita: Sudahkan kita benar-benar melihat rezeki yang telah Allah berikan kepada kita hari ini?

Ali Zain Aljufri
Ali Zain Aljufri Motivator di Komunitas Ngopi Cangkir

Post a Comment

Ruang Iklan 300 px × 50 px
Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px