Saat Dunia Terasa Bising: Mencari Kedamaian di Tengah Keresahan

Ali Zain Aljufri - Pagi itu, belum juga sempat membuka mata, notifikasi di ponsel sudah berdering tak karuan. Rasanya seperti dikejar-kejar tenggat waktu, berita buruk, perbandingan hidup dan berbagai macam ketakutan yang sulit dijelaskan. Di luar sana, semua orang tampak sibuk berlomba; sementara di dalam diri, hati terasa bergejolak. Saya jadi ingat kata-kata seorang guru saya dulu:
“Bukan dunianya yang ramai, tapi kita yang lupa bagaimana caranya menikmati kesunyian.”
Kata-kata itu terasa menenangkan, seperti embun pagi yang menyegarkan. Dari situlah saya mulai mencari cara untuk menemukan ketenangan jiwa di tengah badai keresahan, belajar dari kearifan Islam ala Nahdlatul Ulama’ (NU).
Tulisan ini saya tujukan untuk siapa saja yang sedang mencari ketenangan dalam hidup. Untuk mereka yang merasa lelah dan hampa, meski selalu sibuk. Untuk mereka yang ingin kembali menemukan diri sendiri, tanpa harus menghindar dari kenyataan. Mari kita bahas tentang keresahan dari sudut pandang Islam. Bukan sebagai sesuatu yang buruk, tapi sebagai sinyal untuk kembali kepada Allah, kepada napas, kepada hati yang bersih.
1. Keresahan yang Menyelusup ke Dalam Hati

Keresahan sering datang tiba-tiba. Ia muncul di tengah kesibukan, menghantui pikiran yang tak pernah berhenti. Dalam Islam, merasa resah bukanlah sesuatu yang memalukan. Al-Qur’an menyebutnya sebagai qalqalah, yaitu getaran yang menandakan hati yang belum stabil. Kita hanyalah manusia biasa, dan merasakan gelisah adalah bagian dari perjalanan hidup.
Akan tetapi, jika dibiarkan, keresahan bisa semakin menjadi-jadi. Apalagi dengan adanya media sosial, informasi datang bertubi-tubi, dan perbandingan dengan orang lain semakin tak terhindarkan. Akhirnya, kita lupa untuk beristirahat, lupa bahwa hati juga butuh waktu untuk tenang.
NU mengajarkan tawasuth, yaitu jalan tengah. Bukan berarti kita harus menjauhi dunia, tapi juga tidak boleh tenggelam di dalamnya. Semuanya harus seimbang, atau tawazun. Di sinilah konsep mindfulness dalam Islam menemukan tempatnya: hadir sepenuhnya di saat ini, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai dan etika.
2. Mindfulness dalam Islam: Hadir, Sadar dan Berserah Diri

Mindfulness sering diartikan sebagai kesadaran penuh pada saat ini. Sebenarnya, konsep ini bukanlah hal baru dalam Islam. Sholat adalah latihan untuk hadir sepenuhnya. Wudhu adalah cara mempersiapkan diri untuk sadar. Dzikir adalah jangkar untuk memfokuskan perhatian. NU melestarikan tradisi ini dengan cara yang sederhana dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dzikir bukan sekadar mengucapkan kalimat-kalimat tertentu, tapi juga merupakan napas bagi jiwa. Saat kita menyebut nama-nama Allah, pikiran akan menjadi lebih tenang. Saat hati mengingat-Nya, keresahan akan menemukan tempat untuk mereda. Inilah kunci ketenangan hati yang sering kita cari jauh-jauh, padahal sebenarnya ada di dekat kita.
NU juga menekankan pentingnya tawakkal, yaitu berserah diri kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin. Bukan berarti kita hanya pasrah tanpa melakukan apa-apa, tapi lebih kepada percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik setelah kita berikhtiar. Dengan begitu, beban pikiran akan berkurang, dan hati akan merasa lebih lega.
3. Nasihat Hati: Mendengarkan Suara Hati yang Tersembunyi

Ada jenis pengetahuan yang tidak bisa ditemukan di buku, yaitu nasihat dari hati. Nasihat ini akan muncul saat kita berada dalam keadaan yang tenang, saat kita menjauhkan diri dari handphone, saat kita bersujud di atas sajadah. NU mengajarkan samt, yaitu diam, sebagai jalan menuju kebijaksanaan. Diam bukan berarti kosong, tapi justru penuh dengan makna.
Salah seorang guru saya pernah berpesan:
“Jika pikiranmu sedang kacau, kurangi berbicara. Jika hatimu sedang sesak, perbanyaklah berdzikir.”
Pesan yang sangat sederhana, tapi sangat efektif. Nasihat ini bekerja seperti air jernih yang menyirami tanah yang kering.
Mendengarkan hati bukan berarti menuruti semua keinginan kita, tapi justru menuntunnya agar kembali ke jalan yang benar. Dalam Islam, hati (qalb) itu mudah berubah-ubah. Oleh karena itu, hati perlu ditambatkan dengan ilmu, etika, dan amalan-amalan yang baik.
4. Kedamaian Jiwa di Tengah Kesibukan

Coba bayangkan sebuah gurun yang panas, kering, dan melelahkan. Kemudian, dari kejauhan, terlihat sebuah oasis yang hijau dan menyegarkan. Di sanalah kita bisa menemukan air dan tempat berteduh. Itulah gambaran dari kedamaian jiwa. Dalam tradisi NU, kedamaian itu bisa ditemukan dalam ritual-ritual sederhana yang dilakukan secara konsisten:
- Wirid harian: Tidak perlu panjang-panjang, yang penting dilakukan secara rutin.
- Sholawat: Mengalirkan cinta kepada Nabi ﷺ dan menenangkan pikiran.
- Mengaji: Memperdalam pemahaman agama dan menenangkan hati.
- Silaturahmi: Mempererat tali persaudaraan dan saling menguatkan.
Kedamaian jiwa tidak selalu datang dalam bentuk yang spektakuler. Ia bisa hadir di sela-sela kesibukan kita: setelah sholat Subuh, saat menunggu sesuatu, atau saat tersenyum kepada tetangga. Kuncinya adalah istiqomah, yaitu melakukan sesuatu secara terus-menerus, meskipun sedikit.
5. Keresahan dalam Islam adalah Tanda untuk Kembali

Islam tidak menolak adanya keresahan. Islam justru melihatnya sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan. Bahkan, Rasūlullāh ﷺ pun pernah merasakannya, yaitu sebelum menerima wahyu dan sebelum mengambil keputusan penting. Keresahan adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
NU mengajak kita untuk merespons keresahan dengan ilmu dan kebijaksanaan. Caranya adalah dengan bertanya kepada guru, membaca kitab dan menghadiri majelis ilmu. Di sana, kita akan merasa ditemani dan tidak dihakimi. Perlahan, keresahan itu akan berubah menjadi pemahaman yang lebih baik.
Saat keresahan datang, tanyakan pada diri sendiri: Apa yang kurang? Apakah kurang berdzikir, berdo’a, beristirahat, atau memaafkan orang lain?
6. Praktik Mindfulness dalam Islam

Berikut adalah beberapa praktik mindfulness yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:
- Niatkan untuk Hadir Sepenuhnya. Setiap kali melakukan sesuatu, awali dengan niat yang baik, yaitu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas. Dengan begitu, rutinitas sehari-hari akan berubah menjadi ibadah.
- Bernapas sambil Berdzikir. Tarik napas perlahan, lalu hembuskan sambil menyebut nama Allah. Ulangi sebanyak 5-10 kali. Cara ini efektif untuk meredakan keresahan.
- Sholat dengan Khusyuk. Pahami setiap bacaan dan rasakan setiap gerakan dalam sholat. Jangan terburu-buru. Sholat adalah latihan mindfulness yang paling lengkap.
- Batasi Penggunaan Gawai. Tentukan waktu-waktu tertentu untuk menjauhkan diri dari handphone. Manfaatkan waktu tersebut untuk membaca, berdzikir, atau sejenak diam. Kesunyian adalah vitamin bagi jiwa.
- Rutin Bersholawat. Pilih salah satu sholawat dan amalkan secara rutin. Mencintai Rasūlullāh ﷺ akan menenangkan hati.
- Belajar Agama dengan Guru yang Sanadnya Jelas. NU menekankan pentingnya belajar agama dari guru yang memiliki sanad atau garis keilmuan yang jelas, agar ilmu yang didapatkan bisa menenteramkan hati, bukan malah membingungkan.
- Seimbangkan Hidup. Seimbangkan antara ibadah, pekerjaan, dan istirahat. Terlalu banyak melakukan sesuatu juga bisa membuat kita merasa lelah.
7. Ketenangan Hati Bukan Tujuan Akhir, Tapi Sebuah Proses

Seringkali kita mengejar ketenangan hati seolah-olah itu adalah garis akhir dari sebuah perlombaan. Padahal, ketenangan hati adalah sebuah perjalanan yang panjang. Ada hari-hari yang tenang, ada juga hari-hari yang penuh dengan masalah. Itu adalah hal yang wajar. Yang penting adalah kita tahu bagaimana cara untuk kembali ke jalan yang benar.
NU mengajarkan tasamuh, yaitu lapang dada. Memaafkan diri sendiri ketika gagal dan kembali bangkit tanpa menyalahkan diri sendiri. Ketenangan akan lahir dari penerimaan diri yang jujur.
Ketenangan juga bukan berarti tidak adanya masalah. Tapi, ketenangan adalah kemampuan untuk tetap tegar di tengah badai, karena kita tahu ada Allah yang selalu menjaga kita.
8. Kisah Sederhana, Makna Mendalam

Seorang ibu di desa pernah bercerita bahwa beliau menenangkan hati dengan menyapu halaman sambil bersholawat. Tidak ada seminar, tidak ada aplikasi, hanya sapu, halaman rumah dan nama Rasūlullāh ﷺ. Hati jadi ringan, katan beliau. Itulah mindfulness dalam Islam yang sebenarnya, yaitu hidup sederhana dan mengalir dalam kehidupan sehari-hari.
Kita sering mencari sesuatu yang rumit, padahal hal-hal sederhana justru bisa memberikan dampak yang paling besar.
9. Menjadi Manusia yang Kembali ke Asalnya

Pada akhirnya, mencari kedamaian jiwa adalah mencari jalan untuk kembali ke fitrah kita sebagai manusia. Kembali kepada kesunyian dan ketenangan. Dunia akan tetap ramai, notifikasi akan terus berdatangan, dan tantangan tidak akan pernah berhenti. Tapi, kita bisa memilih: ikut larut dalam kebisingan, atau menanam kedamaian di dalam hati.
Islam ala NU tidak mengajak kita untuk melarikan diri dari dunia. Islam mengajak kita untuk hadir dengan etika, sadar dengan ilmu dan tenang dengan berdzikir. Jalan ini mungkin tidak cepat, tapi sangat kokoh.
10. Kesimpulan: Menjaga Ketenangan di Tengah Kebisingan

Saat dunia terasa bising, kita tidak perlu menambah kebisingan itu. Yang kita butuhkan adalah ketenangan. Keresahan dalam Islam adalah panggilan untuk kembali kepada Allah. Mindfulness dalam Islam memberikan kita peta untuk mencapai ketenangan itu, yaitu dengan berdzikir, sholat, bertawakkal dan menyeimbangkan hidup. Di sanalah kedamaian jiwa akan tumbuh dan memberikan kita ketenangan hati yang sejati.
Ketenangan bukanlah pelarian, tapi keberanian untuk berhenti sejenak, mendengarkan hati, dan melangkah maju dengan cahaya.
Sekarang, setelah membaca tulisan ini, coba tanyakan pada diri Anda: Di tengah kebisingan hari-hari Anda, di mana Anda akan meletakkan ketenangan?
Post a Comment