Tatkala Asa Tak Kunjung Tiba: Sebuah Renungan

Ali Zain Aljufri - Malam itu, rintik hujan jatuh dengan lembut, membasahi bumi. Di balik jendela kamar yang remang, seorang wanita duduk termenung, memeluk erat kedua lututnya. Usianya tak lagi belia, namun belum sepenuhnya merasa dewasa seperti yang sering kali diharapkan orang lain. Dalam benaknya, berputar pertanyaan yang sama dari tahun ke tahun: Mengapa impianku tak kunjung menjadi kenyataan? Ia telah memanjatkan do’a, berikhtiar sekuat tenaga, meneteskan air mata di sepertiga malam, bahkan berusaha menenangkan diri dengan kata-kata bijak. Akan tetapi, kenyataan tetaplah sama. Sunyi dan sepi, seolah langit enggan memberikan jawaban.
Saudariku, jika engkau pernah berada di titik ini (atau bahkan sedang merasakannya saat ini) tulisan ini hadir untukmu. Tentang asa yang tertunda, hati yang lelah, dan ketentuan Yang Maha Kuasa yang terkadang terasa sulit untuk dipahami. Serta tentang bagaimana membedakan: apakah ini adalah cobaan hidup yang sedang menguji, atau justru pertanda agar kita mengubah haluan?
1. Impian Seorang Muslimah: Antara Harapan dan Realita

Setiap muslimah memiliki impian. Ada yang sederhana, ada pula yang besar dan mulia. Menjadi seorang istri dan ibu yang sholihah, menyelesaikan pendidikan dengan gemilang, membangun karir yang berkah, mengabdi kepada masyarakat dengan tulus, atau sekadar menjalani hidup dengan tenang dan damai, tanpa drama yang menguras jiwa.
Impian seorang muslimah bukanlah sekadar ambisi duniawi belaka. Ia sering kali lahir dari niat yang tulus, dari do’a-do’a yang dipanjatkan dengan khusyuk setelah sholat, dari air mata yang menetes karena mengharap ridho Allah. Namun, ketika asa itu tak kunjung terwujud, hati mulai bertanya-tanya: Di mana letak kesalahanku?
Di sinilah, banyak muslimah yang akhirnya terjebak dalam dua sikap yang berlebihan. Sebagian menyalahkan diri sendiri tanpa henti, merasa diri tidak becus dan tidak pantas. Sementara yang lain, mulai berburuk sangka terhadap ketentuan Allah, merasa tidak adil dan kecewa. Padahal, dalam ajaran Islam (terutama dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah yang kita anut) kehidupan ini selalu berjalan seiring antara ikhtiar dan tawakal, antara usaha manusia dan kehendak Ilahi.
2. Memahami Ketentuan Allah dengan Hati yang Lapang

Dalam pandangan Nahdlatul Ulama’ (NU), ketentuan Allah tidak pernah dimaknai sebagai alasan untuk berpasrah diri tanpa melakukan upaya apapun. Sebaliknya, kita juga tidak boleh hanya mengandalkan kerja keras tanpa memohon pertolongan-Nya. NU mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga keseimbangan (tawassuth) dalam segala hal. Kita berusaha sekuat tenaga, mencurahkan segala kemampuan yang kita miliki, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh adab dan keyakinan.
Ketentuan Allah bukanlah vonis mati yang membungkam segala ikhtiar. Ia adalah rahasia Ilahi yang berjalan beriringan dengan usaha manusia. Oleh karena itu, ketika impianmu belum tercapai, pertanyaannya bukan hanya Mengapa Allah belum memberiku? tetapi juga Pelajaran apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui semua ini?
3. Cobaan Hidup: Saatnya Menguatkan Diri

Dalam Al-Qur’an, Allah dengan tegas menyatakan bahwa kehidupan ini memang sarat dengan cobaan. Tidak ada seorang pun manusia beriman yang luput darinya. Namun, ketahuilah bahwa cobaan hidup hadir bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menguji dan menguatkan diri kita.
Berikut adalah beberapa ciri yang bisa membantu kita memahami bahwa keterlambatan impianmu adalah sebuah ujian dari Allah:
- Hatimu tetap tergerak untuk terus berusaha, meski rasa lelah menghampiri. Ada rasa capek dan ingin menyerah, namun harapan tidak pernah padam. Kamu masih memiliki keinginan untuk bangun, mencoba lagi, dan memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh.
- Nilai-nilai kebaikan dalam dirimu justru semakin bertambah. Kamu menjadi lebih sabar, lebih lembut kepada orang lain, lebih dekat kepada Allah.
- Tidak ada jalan lain yang terasa lebih hidup dan bermakna. Meski telah mengalami kegagalan berkali-kali, hatimu tetap tertambat pada impian yang sama. Seolah Allah berbisik, Bertahanlah sedikit lagi
Jika engkau merasakan hal-hal tersebut, maka yakinlah bahwa impian yang tertunda ini adalah cara Allah untuk memperluas kapasitas jiwamu. Karena impian yang besar membutuhkan hati yang kuat dan mental yang tangguh.
4. Pertanda dari Allah: Saatnya Mengubah Arah

Namun, tidak semua penundaan adalah cobaan semata. Ada kalanya, itu adalah pertanda dari Allah. Allah Maha Penyayang dan Maha Lembut. Ia tidak selalu menutup jalan dengan cara yang kasar dan menyakitkan. Terkadang, Ia menutupnya secara perlahan, dengan menghadirkan rasa hampa, kegelisahan yang tak kunjung hilang, atau perasaan tidak nyaman meskipun secara lahiriah tampak baik-baik saja.
Berikut adalah beberapa tanda yang mungkin mengindikasikan bahwa ini adalah pertanda dari Allah:
- Allah membukakan pintu lain yang lebih menenangkan dan menentramkan jiwa. Ada jalan baru yang mungkin tidak pernah kamu rencanakan sebelumnya, namun terasa lebih selaras dengan fitrahmu sebagai seorang muslimah.
- Hatimu terus-menerus merasa gelisah, meskipun secara kasat mata tampak berhasil. Secara logika, kamu sudah dekat dengan impianmu. Namun, batinmu tidak merasakan ketenangan dan kedamaian.
- Nilai-nilai luhur dalam hidupmu mulai terkikis. Demi mengejar impian tersebut, kamu mulai lalai dalam menunaikan shalat, mengabaikan kejujuran, atau melupakan adab dan sopan santun.
Mendapatkan pertanda dari Allah bukan berarti sebuah kegagalan. Inilah undangan dari Allah untuk naik kelas, untuk bermimpi dengan cara yang berbeda, dan untuk meraih kebahagiaan yang lebih hakiki.
5. Mengapa Muslimah Seringkali Merasa Lebih Berat Menghadapi Impian yang Tertunda?

Seorang muslimah hidup di tengah persimpangan berbagai ekspektasi. Keluarga, masyarakat, media sosial, seolah semuanya memiliki standar masing-masing tentang kesuksesan seorang perempuan.
Belum menikah? Pertanyaan demi pertanyaan akan menghujanimu. Sudah menikah tapi belum dikaruniai anak? Tekanan akan semakin kuat. Bekerja? Dicap kurang fokus mengurus rumah tangga. Tidak bekerja? Dibilang kurang mandiri dan tidak produktif.
Di tengah kebisingan dan tuntutan yang datang dari berbagai arah, cobaan hidup terasa berlipat ganda. Impian seorang muslimah sering kali harus diperjuangkan sambil berusaha menenangkan hati orang lain. Maka, wajar saja jika seorang muslimah merasa lelah dan bertanya-tanya tentang arah hidupnya.
Namun, yang tidak wajar adalah menyerah pada keputusasaan dan kehilangan harapan.
6. Ikhtiar yang Beradab: Kunci Kebahagiaan ala NU

NU mengajarkan bahwa ikhtiar harus dilakukan dengan adab yang baik. Bukan dengan cara yang membabi buta, melanggar syariat, atau mematikan nurani.
Berikut adalah beberapa prinsip ikhtiar yang perlu kita renungkan bersama:
- Ikhtiar bukanlah upaya untuk memaksa Allah, melainkan mengetuk pintu rahmat-Nya dengan sopan dan penuh kerendahan hati.
- Ikhtiar harus senantiasa disertai dengan do’a yang tulus dan mengharap ridho Allah.
- Ikhtiar tidak boleh mengorbankan akhlak mulia. Tujuan tidak menghalalkan segala cara.
Ketika impian tak kunjung tercapai, tanyakanlah pada diri sendiri: Apakah ikhtiarku selama ini sudah dilakukan dengan jujur, sabar dan beradab? Jika jawabannya adalah ya, maka tenanglah. Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.
7. Kisah Nyata yang Seringkali Kita Abaikan

Ada banyak ulama’ besar, tokoh aktivis perempuan NU dan figur muslimah inspiratif yang baru menemukan jalan hidupnya setelah mengalami kegagalan yang panjang dan berliku. Ada yang berkali-kali gagal masuk ke jurusan pendidikan impiannya. Ada yang lama menanti kehadiran jodoh. Ada pula yang impiannya berubah total di usia dewasa.
Namun, ada satu kesamaan yang menjadi benang merah dalam kisah mereka: mereka tidak pernah berhenti berjalan. Mereka berdamai dengan ketentuan Allah tanpa mematikan semangat untuk terus berusaha.
8. Berdamai Bukan Berarti Berhenti Bermimpi

Ini adalah poin yang sangat penting untuk kita pahami. Berdamai dengan ketentuan Allah bukan berarti mengubur impian dan cita-cita. Ia berarti menata ulang harapan agar sejalan dengan kehendak Allah.
Terkadang, impian tidak benar-benar mati. Ia hanya bereinkarnasi menjadi bentuk yang lebih matang, lebih indah, dan lebih bermanfaat.
9. Ketika Do’a Belum Terkabulkan

Dalam ajaran Islam, do’a tidak pernah sia-sia. Ia bisa dikabulkan dengan tiga cara: diberikan secara langsung di dunia, ditunda hingga di akhirat, atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik menurut pengetahuan Allah. Masalahnya, kita seringkali terlalu terpaku pada satu bentuk jawaban yang kita inginkan.
Padahal, Allah melihat hidup kita secara utuh, dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Ia tahu apa yang terbaik untuk kita, meskipun terkadang kita tidak menyadarinya.
10. Untuk Muslimah yang Sedang Merasa Lelah

Jika hari ini engkau merasa tertinggal dari orang lain, ingatlah bahwa waktu Allah tidak pernah terlambat. Jika engkau merasa impianmu semakin menjauh, bisa jadi Allah sedang mendekatkanmu pada versi dirimu yang lebih kuat, lebih bijaksana dan lebih bertaqwa.
Tetaplah teguh dalam menunaikan shalat, teruslah memanjatkan do’a, dan jangan pernah berhenti berusaha. Namun, jangan lupakan juga untuk memberikan dirimu waktu beristirahat dan memulihkan diri.
11. Resolusi Akhir

Saat impian seorang muslimah tak kunjung tiba, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak peduli. Bisa jadi, itu adalah cobaan hidup yang hadir untuk menguatkan iman dan ketakwaan kita. Bisa juga, itu adalah pertanda dari Allah agar kita memperbaiki arah hidup kita. Dengan memahami ketentuan Allah sebagaimana diajarkan dalam tradisi NU (yang menyeimbangkan antara ikhtiar dan tawakal) kita diajak untuk tetap tegar dalam menghadapi segala ujian, tanpa kehilangan harapan dan semangat untuk terus berjuang.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa cepat impian tercapai, tetapi tentang seberapa dekat kita dengan Allah dalam setiap prosesnya.
Dan sekarang, izinkan saya bertanya kepada Anda: impian yang tertunda itu, sedang menguji atau sedang memanggil menuju jalan yang baru?
Post a Comment