Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px

Menemukan Ketenangan di Tengah Kesibukan: Belajar dari Pesantren

Table of Contents
Ali Zain Aljufri

Ali Zain Aljufri - Pagi belum sempurna saat secangkir teh hangat mengepul di beranda sebuah pesantren. Uapnya yang perlahan naik bagaikan napas lega setelah keheningan malam. Dari kejauhan, terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para santri, tidak terlalu keras, namun cukup menemani kesunyian. Di momen seperti inilah, saya menyadari bahwa hidup tak selalu tentang berlari. Terkadang, kita hanya perlu duduk, diam dan mendengarkan detak jantung sendiri. Dari secangkir teh sederhana ini, pelajaran berharga mulai terungkap.

Kehidupan modern sering kali terasa seperti pasar yang tak pernah sepi. Pikiran dipenuhi berbagai hal, jadwal padat, dan notifikasi yang terus berdatangan. Bahkan, doa pun terkadang diucapkan dengan terburu-buru. Namun, di tengah kesibukan ini, ada tradisi lama yang setia menawarkan kedamaian: momen hening ala pesantren Nahdlatul Ulama’. Hening di sini bukan berarti kosong, melainkan hening yang bermakna. Di sinilah perenungan harian menemukan tempatnya, dan oase hati terbentuk, seteguk demi seteguk.

1. Pesantren dan Seni Meluangkan Waktu

Ali Zain Aljufri

Di pesantren NU, waktu tidak hanya dibagi menjadi pagi, siang dan malam. Ada waktu di antara waktu-waktu tersebut, seperti setelah Subuh yang panjang, menjelang Maghrib yang syahdu, atau waktu setelah Isya ketika dunia luar mulai terlelap, namun batin justru terjaga. Di sela-sela waktu inilah, para santri belajar seni meluangkan waktu, bukan untuk bermalas-malasan, tetapi untuk memulihkan jiwa.

Tradisi ini mengajarkan bahwa kesibukan bukanlah alasan untuk kehilangan kedalaman. Justru di tengah rutinitas, ketenangan diuji dan dimatangkan. Pesantren tidak menolak aktivitas, tetapi mengajarkan irama. Ada waktu untuk membaca kitab dengan serius, menyapu halaman sambil berdzikir pelan dan ada pula waktu untuk berhenti sejenak, menikmati teh dan membiarkan hati berbicara; mendengarkan suara hati.

2. Sya’ban: Bulan yang Mengajari Kita Ketenangan

Ali Zain Aljufri

Saat kalender Hijriah memasuki bulan Sya’ban, pesantren terasa lebih tenang. Tidak seramai Ramadhan, tidak pula sesunyi Muharram. Sya’ban hadir seperti jeda atau tarikan napas. Di sinilah ketenangan Sya’ban mulai bisa dirasakan, bukan sebagai slogan, melainkan pengalaman nyata.

Para ulama’ menyebut Sya’ban sebagai bulan persiapan hati, bukan hanya persiapan fisik atau sekadar jadwal puasa sunnah. Lebih dari itu, Sya’ban adalah undangan untuk merapikan batin; berdamai dengan diri sendiri dan belajar tenang dari bulan Sya’ban.

Di pesantren, Sya’ban sering diisi dengan wirid yang lebih khusyuk, do’a-do’a pendek yang diulang dengan perlahan, dan perenungan harian yang sederhana. Tidak berlebihan, tidak tergesa-gesa, hanya pengulangan yang menenangkan.

3. Ketenangan yang Tidak Datang dengan Sendirinya

Ali Zain Aljufri

Banyak orang mencari ketenangan seperti mencari barang yang hilang, panik dan terburu-buru. Padahal, ketenangan tidak ditemukan dengan tergesa-gesa, melainkan dijumpai secara perlahan dengan kesediaan untuk berhenti sejenak.

Ketenangan di bulan Sya’ban tidak muncul karena kita tiba-tiba bebas dari masalah. Sering kali, ketenangan lahir ketika masalah tetap ada, tetapi kita tidak lagi memberikan seluruh perhatian kepadanya. Kita belajar memilah mana yang harus dikejar dan mana yang cukup diserahkan.

Di pesantren NU, ada nasihat yang tidak tertulis: yang penting terus mengaji, terus berdo’a. Terus belajar dan terus berdo’a. Dari kebiasaan inilah makna ketenangan Sya’ban dipahami. Tenang bukan berarti kosong dari beban, melainkan penuh dengan sandaran.

4. Oase Hati di Tengah Rutinitas

Ali Zain Aljufri

Bayangkan sebuah padang pasir yang luas, panas, dan melelahkan. Lalu, di tengah perjalanan panjang, Anda menemukan mata air kecil. Tidak besar, tidak mewah, tetapi cukup untuk bertahan. Itulah oase hati.

Dalam rutinitas harian, terutama bagi mereka yang bekerja, mengurus keluarga, atau belajar tanpa henti, oase sangat dibutuhkan. Di pesantren, oase itu sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: duduk bersila setelah Subuh, membaca wirid pendek, lalu diam beberapa menit.

Di momen itulah perenungan harian bekerja. Tanpa ceramah panjang, tanpa teori rumit, hanya kesadaran bahwa kita masih bernapas, masih diberi waktu dan masih ditemani Allah.

5. Tanggal 5 Sya’ban: Catatan Kecil yang Bermakna

Ali Zain Aljufri

Tanggal 5 Sya'ban mungkin tidak istimewa di kalender dunia. Tidak ada libur nasional, tidak ada perayaan besar. Namun, bagi jiwa yang terbiasa mencatat, setiap hari memiliki makna tersendiri.

Di pesantren, ada tradisi menulis catatan hati, singkat dan kadang hanya satu paragraf. Pada tanggal 5 Sya’ban, catatan itu sering berisi refleksi ringan: sudah sejauh mana hati disiapkan? Apakah emosi masih mudah terpancing? Apakah do’a masih diucapkan dengan terburu-buru?

Perenungan tanggal 5 Sya’ban tidak dimaksudkan untuk menghakimi diri, melainkan hadir sebagai cermin, sebagai ajakan lembut untuk memperbaiki diri. Inilah makna tanggal 5 Sya’ban yang jarang disadari: kesempatan kecil untuk berbenah diri sebelum melangkah lebih jauh.

6. Ketenangan Spiritual yang Dilatih

Ali Zain Aljufri

Ketenangan spiritual di bulan Sya’ban bukanlah sesuatu yang instan, itu harus dilatih. Seperti otot, semakin sering digunakan, semakin kuat.

Pesantren NU mengajarkan latihan itu melalui rutinitas: bangun pagi meski mata masih berat, mengaji meski pikiran melayang, membersihkan lingkungan meski badan lelah. Semua dilakukan dengan niat yang sama: melatih kehadiran hati.

Dari sini, Sya’ban dan keteduhan jiwa menjadi satu kesatuan. Bulan ini mengajarkan bahwa keteduhan bukanlah hasil pelarian, melainkan buah dari kedisiplinan batin.

7. Menjemput Ketenangan Sebelum Ramadhan

Ali Zain Aljufri

Ramadhan sering disambut dengan meriah, jadwal padat dan target ibadah menumpuk. Ironisnya, banyak yang justru kelelahan sebelum Ramadhan benar-benar dimulai. Di sinilah peran Sya'ban menjadi sangat penting.

Menjemput ketenangan sebelum Ramadhan berarti tidak memaksa diri berlari tanpa pemanasan. Sya’ban adalah masa pemanasan jiwa, mengatur ulang niat, dan meluruskan kembali tujuan ibadah.

Pesantren NU memandang Sya’ban sebagai ruang transisi, dari rutinitas biasa menuju ritme Ramadhan, dari ibadah yang kadang lalai menuju ibadah yang lebih sadar. Di ruang inilah pelajaran tentang ketenangan menjelang Ramadhan tumbuh.

8. Renungan Harian sebagai Pegangan Jiwa

Ali Zain Aljufri

Tanpa perenungan harian, hari-hari mudah berlalu tanpa makna. Kita bangun, bekerja, tidur, lalu mengulanginya. Renungan hadir sebagai pegangan yang menahan kita agar tidak hanyut.

Di pesantren, renungan sering dilakukan di pagi hari. Renungan pagi biasanya singkat, kadang hanya satu ayat, satu hadits, atau satu kalimat bijak dari Masayikh, tetapi dampaknya panjang dan menemani sepanjang hari.

Renungan tidak selalu harus berat. Justru renungan yang singkat dan bermakna sering kali lebih membekas, seperti tetesan air yang jatuh terus-menerus, lama-lama akan melubangi batu.

9. Tanggal 5 Sya’ban dalam Keheningan Hati

Ali Zain Aljufri

Ada hari-hari yang meminta kita untuk lebih banyak diam. Tanggal 5 Sya’ban dalam keheningan hati adalah salah satunya. Bukan karena ada peristiwa besar, tetapi karena jiwa membutuhkannya.

Keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang. Di dalam ruang itulah do’a-do’a yang lama terpendam dapat naik ke permukaan. Di ruang itu pula kita dapat mendengar suara hati yang selama ini tertutup oleh kebisingan.

Ketenangan jiwa pada tanggal 5 Sya’ban sering kali hadir tanpa disadari. Ia muncul ketika kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain, ketika kita menerima bahwa perjalanan setiap orang berbeda.

10. Refleksi Diri yang Membumi

Ali Zain Aljufri

Refleksi diri di bulan Sya'ban tidak menuntut kesempurnaan, tetapi hanya meminta kejujuran. Pesantren NU menekankan refleksi yang membumi, tidak melayang-layang dalam teori, tetapi menyentuh kehidupan sehari-hari.

Apakah kita lebih sabar hari ini dibandingkan kemarin? Apakah do’a kita lebih khusyuk, meski hanya sedikit? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini menjadi inti refleksi diri pada tanggal 5 Sya’ban.

Dari refleksi itulah perenungan jiwa menjelang Ramadhan terbentuk, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menguatkan.

11. Oase Hati yang Bisa Dibawa Pulang

Ali Zain Aljufri

Yang menarik dari tradisi pesantren adalah kesederhanaannya. Tidak semua orang tinggal di pesantren, tetapi nilai-nilainya dapat dibawa pulang. Oase itu dapat kita ciptakan sendiri.

Secangkir kopi di pagi hari, beberapa menit sebelum tidur, atau jeda singkat di sela-sela pekerjaan. Jika diisi dengan kesadaran, semuanya dapat menjadi oase hati, bahkan di tengah kota yang bising.

Di situlah perenungan tentang ketenangan menemukan relevansinya. Ia tidak terkurung di tembok pesantren, melainkan hidup di mana pun hati bersedia membuka diri.

12. Perenungan 5 Sya’ban: Catatan untuk Diri Sendiri

Ali Zain Aljufri

Menulis catatan hati pada tanggal 5 Sya'ban tidak harus indah atau puitis, cukup jujur. Apa yang membuat hati gelisah? Apa yang membuat hati tenang?

Dari catatan sederhana itulah pelajaran tentang tanggal 5 Sya'ban muncul, bahwa ketenangan bukanlah hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari kesediaan untuk memperlambat langkah.

Perenungan mengajak kita melihat hidup dari sudut pandang yang lebih lembut. Tidak semua harus dikejar hari ini, tidak semua harus diselesaikan sekarang.

13. Kesimpulan

Ali Zain Aljufri

Menemukan ketenangan di tengah kesibukan ini memberi tahu kita bahwa ketenangan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Melalui tradisi pesantren NU, terutama di bulan Sya’ban, kita diajak untuk menemukan kembali ritme hidup yang lebih manusiawi. Ketenangan Sya’ban, perenungan harian, oase hati, dan momen seperti tanggal 5 Sya’ban menjadi penanda bahwa di tengah kesibukan, selalu ada ruang untuk diam, merenung, dan menguatkan jiwa. Dari situlah kita menjemput Ramadhan dengan hati yang lebih siap dan damai.

Di tengah rutinitas Anda hari ini, di mana letak secangkir pelajaran yang bisa Anda sisihkan untuk diri sendiri? Sudahkah Anda memberi ruang hening bagi hati Anda, setidaknya sejenak, untuk mempersiapkan diri menyambut hari-hari yang lebih bermakna?

Ali Zain Aljufri
Ali Zain Aljufri Motivator di Komunitas Ngopi Cangkir

Post a Comment

Ruang Iklan 300 px × 50 px
Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px