Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px

Mengapa Kita Seringkali Merasa Berat Melepas? Sebuah Refleksi di 11 Sya’ban 1447 H

Table of Contents
Ali Zain Aljufri

Ali Zain Aljufri - Pagi itu, suasana tampak biasa saja. Langit tidak memancarkan warna keemasan yang memesona dan hujan pun tidak hadir untuk menenangkan jiwa. Namun, entah mengapa, ada beban yang terasa menghimpit dada. Sambil terdiam, saya memandangi secangkir kopi yang telah mendingin. Pandangan saya tertuju pada kalender hijriah di dinding, menunjukkan tanggal 11 Sya’ban 1447 H. Bagi sebagian orang, mungkin ini hanyalah hari biasa. Akan tetapi, bagi jiwa yang sedang lelah, hari ini seolah menjadi pengingat lembut yang bertanya, Mengapa kamu masih berpegang pada sesuatu yang seharusnya sudah kamu relakan?

Pertanyaan itu hadir dengan tenang, seperti sebuah bisikan yang halus namun menusuk. Dari sanalah lahir sebuah renungan. Sebuah opini yang tumbuh dari keheningan dan pergulatan batin, yang mungkin juga sedang Anda rasakan saat ini.

1. Ikhlas: Singkat Kata, Panjang Makna

Ali Zain Aljufri

Ikhlas, sebuah kata yang seringkali kita ucapkan, bahkan terlalu sering. Kata ini hadir dalam nasihat, ceramah agama, dan status di media sosial. Namun, tatkala tiba saatnya untuk mempraktekkannya, kita seringkali merasa kesulitan.

Kesulitan dalam berpasrah bukan disebabkan oleh ketidaktahuan akan definisinya. Kita semua tahu, pasrah berarti menerima, melepaskan, dan menerima dengan lapang dada segala ketetapan dari Tuhan. Akan tetapi, antara pengetahuan dan kemampuan, terbentang jurang yang cukup dalam. Jurang emosi, luka, serta harapan yang pernah kita bangun dengan susah payah.

Dalam sudut pandang spiritual, pasrah bukan hanya sekadar konsep teologis semata. Ia adalah sebuah perjuangan batin yang melelahkan, yang menuntut kita untuk berdamai dengan kehilangan, kekecewaan, serta kenyataan bahwa tidak semua harapan akan terwujud sesuai dengan keinginan kita.

2. Akar Kesulitan dalam Melepas

Ali Zain Aljufri

Pertanyaan ini memang sederhana, namun jawabannya sangatlah kompleks. Kesulitan dalam berpasrah seringkali berakar pada perasaan terikat yang mendalam. Kita terikat pada hasil yang ingin dicapai, pada orang-orang di sekitar kita, pada impian yang kita idam-idamkan, bahkan pada diri kita yang dulu.

Kita semua ingin merasakan bahagia, dan ini adalah hal yang wajar. Namun, tanpa kita sadari, kita seringkali menggantungkan kebahagiaan kita pada sesuatu selain Tuhan. Ketika sesuatu itu hilang atau pergi, ketenangan kita pun ikut lenyap. Dari sinilah awal mula kesulitan dalam berpasrah.

Selain itu, ego yang terluka juga bisa menjadi penghalang. Ego yang berbisik, Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, mengapa aku harus mengalami kegagalan? Ego yang sulit menerima bahwa takdir kadang berjalan di luar logika keadilan yang kita pahami.

3. Luka yang Terus Membekas

Ali Zain Aljufri

Banyak dari kita yang masih membawa luka lama, luka yang mungkin tidak terlihat secara kasat mata, namun terus mengganggu dan menghantui. Luka karena dikhianati, ditinggalkan, atau merasa tidak diinginkan. Luka karena harapan yang tak kunjung terwujud.

Dalam renungan di bulan Sya’ban ini, saya menyadari satu hal penting: kita seringkali mencoba berpasrah tanpa terlebih dahulu berani mengakui rasa sakit yang kita rasakan. Kita ingin cepat sembuh, cepat melupakan dan terlihat kuat di hadapan orang lain. Padahal, melepas bukan berarti menekan emosi, melainkan mengakui keberadaannya.

Menangis bukanlah tanda bahwa kita telah gagal. Merasa sedih bukanlah suatu dosa. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita terlalu lama terpuruk dalam kesedihan, menolak untuk bergerak maju dan menutup diri dari harapan baru yang mungkin lebih baik.

4. Sya’ban: Bulan Persiapan Diri

Ali Zain Aljufri

Sya’ban merupakan bulan persiapan diri, yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Ia menjadi sebuah jeda, sebuah kesempatan untuk merenung dan memperbaiki diri. Dalam berbagai riwayat, Sya’ban disebut sebagai bulan diangkatnya amal.

Renungan di bulan Sya’ban mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri: Amal apa yang akan kita persembahkan, jika hati kita masih dipenuhi dengan dendam dan penyesalan? Bagaimana do’a-do’a kita akan naik dengan ringan, jika jiwa kita masih terbebani oleh masa lalu?

Di sinilah keikhlasan menjadi sebuah ibadah batin yang sangat penting. Ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh mata, namun dampaknya sangat besar. Melepas membersihkan hati, melapangkan dada dan membuka jalan bagi datangnya cahaya Ramadhan yang sebentar lagi tiba.

5. Tawakal dan Kepasrahan yang Sejati

Ali Zain Aljufri

Seringkali, kita salah mengartikan keikhlasan sebagai sikap fatalistis yang hanya pasrah tanpa mau berusaha. Ini adalah pemahaman yang keliru! Melepas bukanlah kepasrahan yang pasif, melainkan menerima hasil setelah melakukan usaha yang terbaik.

Kesulitan dalam berpasrah juga muncul ketika kita mencampuradukkan tawakal dengan keputusasaan. Kita seringkali mengatakan sudah takdir padahal kita belum berusaha dengan sungguh-sungguh. Atau sebaliknya, kita sudah berusaha sekuat tenaga, namun menolak untuk menerima hasil yang telah ditetapkan.

Penting untuk ditekankan dalam opini ini bahwa ikhlas adalah sebuah keseimbangan. Ia berada di antara usaha dan penerimaan, tanpa condong ke arah ekstrem mana pun.

6. Ketika Harapan Berubah Menjadi Beban

Ali Zain Aljufri

Harapan bagaikan pedang bermata dua. Ia bisa menjadi sumber motivasi dan energi, namun juga bisa menjadi sumber penderitaan yang mendalam. Kita seringkali berharap pada manusia, pada situasi tertentu, atau pada masa depan yang kita impikan.

Ketika harapan itu pupus, kita merasa seolah-olah dikhianati oleh kehidupan. Padahal, mungkin yang perlu kita evaluasi bukanlah realitas yang ada, melainkan ekspektasi yang terlalu tinggi.

Kesulitan dalam berpasrah seringkali berasal dari harapan yang tidak realistis. Kita ingin semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kita, adil menurutKeinginan kita, dan terjadi dengan cepat. Padahal, Allah Ta’ala memiliki rencana dan waktu-Nya sendiri, dengan hikmah yang mungkin baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.

7. Proses Menuju Keikhlasan Membutuhkan Waktu

Ali Zain Aljufri

Ada anggapan yang kurang tepat mengenai ikhlas, yaitu bahwa ia harus datang secara tiba-tiba dan sempurna. Seolah-olah jika kita masih merasa sakit, berarti kita telah gagal berpasrah.

Pada kenyataannya, keikhlasan seringkali datang secara bertahap. Perlahan namun pasti. Kadang, kita merasa sudah berhasil berpasrah, namun luka lama kembali terbuka.

Dalam renungan di bulan Sya’ban ini, kita belajar untuk bersabar dalam menjalani proses keikhlasan. Melepas bukanlah sebuah garis lurus, melainkan sebuah jalan berliku yang penuh dengan pelajaran berharga.

8. Kekuatan Do’a dalam Meraih Keikhlasan

Ali Zain Aljufri

Banyak orang yang berhenti berdo’a ketika merasa kecewa. Mereka merasa lelah untuk terus berharap. Padahal, do’a bukan hanya tentang meminta, melainkan juga tentang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Ketika kita merasa sulit untuk berpasrah, do’a bisa menjadi jembatan penghubung antara kita dan Sang Pencipta. Do’a yang jujur, yang tidak dibuat-buat, yang berasal dari hati yang paling dalam. Do’a yang berbunyi:

“Ya Allah, aku belum mampu berpasrah. Tolonglah aku!”

Do’a yang seperti ini justru lebih dekat dengan keikhlasan yang sejati, karena ia lahir dari pengakuan akan kelemahan diri, bukannya kepura-puraan akan kekuatan.

9. Melepas Diri Sendiri: Langkah Penting yang Sering Terlupakan

Ali Zain Aljufri

Ada satu aspek penting yang seringkali kita abaikan, yaitu; melepas diri sendiri. Kita seringkali menyalahkan diri sendiri atas keputusan yang telah diambil di masa lalu. Kita menyesali pilihan yang telah kita buat. Kita menghukum diri sendiri dengan rasa bersalah yang tak berkesudahan.

Kesulitan dalam berpasrah bukan hanya tentang orang lain atau keadaan di sekitar kita, melainkan juga tentang berdamai dengan diri sendiri. Menerima kenyataan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Bahwa kita belajar dari kesalahan yang telah kita perbuat. Bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat.

Melepas diri sendiri adalah langkah yang sangat penting dalam perjalanan spiritual kita. Tanpa hal ini, keikhlasan kita terhadap takdir tidak akan terasa sempurna.

10. Matangnya Iman dalam Menghadapi Ujian

Ali Zain Aljufri

Keikhlasan bukanlah milik orang yang tidak memiliki prasangka. Justru sebaliknya, ia seringkali dimiliki oleh orang-orang yang pernah terpuruk dalam kesedihan, namun berhasil bangkit kembali dengan iman yang lebih kuat.

Iman yang matang tidak akan menghilangkan rasa sakit, namun akan mengajarkan kita cara memaknainya. Ia tidak akan membuat hidup selalu mudah, namun akan membuat hati kita lebih lapang dalam menerima segala ketetapan Tuhan.

Dalam konteks kesulitan untuk berpasrah, iman berperan sebagai kompas yang akan menuntun kita. Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, dan bahwa apa pun yang kita relakan di dunia ini tidak akan pernah benar-benar hilang.

11. Hikmah Tersembunyi di Balik Kehilangan

Ali Zain Aljufri

Kehilangan adalah guru yang sunyi. Ia mungkin tidak banyak berbicara, namun pelajaran yang diberikannya sangatlah mendalam. Kehilangan mengajarkan kita bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal bersama kita selamanya.

Dalam renungan di bulan Sya’ban ini, kehilangan bukan lagi menjadi musuh yang harus kita hindari, melainkan sebuah undangan untuk naik kelas secara spiritual. Untuk mencintai tanpa harus memiliki, untuk berharap tanpa harus menggenggam erat.

Melepas bukan berarti berhenti mencintai, melainkan mencintai dengan cara yang lebih dewasa dan tulus.

12. Kesimpulan: Keikhlasan Sebagai Proses, Bukan Tujuan

Ali Zain Aljufri

Kesulitan dalam berpasrah adalah bagian dari perjalanan manusia menuju kedewasaan spiritual. Ia bukanlah pertanda bahwa iman kita lemah, melainkan pertanda bahwa hati kita sedang belajar untuk menerima dan merelakan. Dalam renungan di bulan Sya’ban ini, kita diingatkan bahwa ikhlas bukanlah tujuan instan yang bisa dicapai dengan mudah, melainkan sebuah proses panjang yang membutuhkan kejujuran, do’a dan kesabaran.

Melepas mengajak kita untuk merelakan apa yang menyakitkan hati kita tanpa harus membenci masa lalu. Ia mengajarkan kita untuk menerima takdir yang telah ditetapkan tanpa harus memadamkan harapan yang ada di dalam diri kita. Dalam opini ini, melepas bukanlah akhir dari rasa sakit, melainkan awal dari kedamaian yang lebih dalam.

Semoga di bulan Sya’ban yang penuh berkah ini, kita diberi keberanian untuk mengakui luka yang kita rasakan, kekuatan untuk berserah diri kepada Tuhan, dan hati yang lapang untuk menerima segala ketetapan-Nya.

Lantas, hal apa yang hingga saat ini masih sulit Anda relakan? Dan jika Allah Ta’ala meminta Anda untuk merelakannya sekarang, apa yang paling Anda takutkan akan hilang dari diri Anda?

Ali Zain Aljufri
Ali Zain Aljufri Motivator di Komunitas Ngopi Cangkir

Post a Comment

Ruang Iklan 300 px × 50 px
Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px