Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px

Rajab: Bulan yang Datang Tanpa Diketahui, Hati Terdalam Merasakan Panggilan

Table of Contents
Dokumentasi Haul Pelem ke-49

Ali Zain Aljufri - Pagi itu, setelah sholat Subuh, dusun Pelem seolah baru saja dibangunkan oleh para malaikat. Udara dingin khas Kediri bercampur dengan aroma kopi hitam dari rumah-rumah penduduk. Suasana Pondok Pesantren Raudhatul Hasanain, Pelem, Maesan, Mojo sudah ramai setelah adzan Subuh. Hari itu bukanlah hari biasa, melainkan acara puncak Haul Pelem ke-49 yang jatuh pada tanggal 21 Desember 2025.

Para santri, jama’ah laki-laki dan warga mulai memadati halaman. Tidak ada jama’ah perempuan di area tersebut. Semua kegiatan terpusat pada barisan laki-laki yang mempersiapkan arak-arakan menuju makam. Di tengah kesibukan itu, alunan qasidah Hadhramiah terdengar dari barisan santri senior. Suaranya lirih tetapi menyentuh hati, seperti suara masa lalu yang kembali untuk memberikan keberkahan.

Drum band mulai dimainkan, tempo diatur, barisan dirapikan. Semuanya bergerak dalam harmoni yang indah. Suasana ramai, namun tetap tertib secara spiritual. Arak-arakan siap berangkat, ziarah menanti, manaqib akan dibacakan dan rangkaian haul akan berlangsung hingga selesai.

Di tengah keramaian itu, mata saya tertuju pada kalender di dinding aula Darus Sholihin (Kediaman Sayyidil Ustadz Habib Husein bin Abu Bakar Ba’abud). Tanggal hari itu ditandai kecil: 1 Rajab 1447 H.

Saya terdiam! Rajab tiba tanpa pemberitahuan atau persiapan apa pun, tetapi terasa sangat dekat. Seolah-olah bulan Rajab masuk melalui celah-celah suara rebana, berdiri di antara langkah-langkah persiapan, dan berbisik lembut di telinga:

“Pulanglah! Kau sudah lama pergi!”

Di tengah hiruk-pikuk haul, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan: panggilan untuk kembali yang tidak terucap, tetapi sangat jelas terdengar.

1. Rajab: Bulan yang Mengajak Merenung, Bukan Memaksa

Ali Zain Aljufri

Jika Ramadan datang dengan semangat yang tinggi dan ibadah yang intens, Rajab hadir seperti embun pagi. Ia tidak memaksa kita untuk melakukan apa pun, tetapi mengajak kita untuk merenung.

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, Rajab bukan hanya penanda kalender Hijriah. Ia adalah waktu untuk menanam benih spiritual, mempersiapkan diri sebelum dirawat di bulan Sya'ban dan dipanen di bulan Ramadan.

Para Masyayikh di pesantren sering mengatakan:

“Rajab adalah waktu untuk menanam, Sya’ban adalah waktu untuk menyiram, dan Ramadhan adalah waktu untuk memanen.”

Kedatangan Rajab yang tenang menjadikan bulan ini sebagai waktu untuk berhenti sejenak, memeriksa arah hidup dan mulai memperbaiki hubungan dengan Allah.

2. Arti Rajab: Melambat untuk Mencari Arah

Ali Zain Aljufri

Di tengah kehidupan yang serba cepat dengan jadwal kerja, tenggat waktu, dan rutinitas yang tak ada habisnya, Rajab mengingatkan kita untuk melambat.

Melambat bukan berarti menyerah, tetapi menyadari diri dan mengambil napas panjang sebelum melangkah lebih jauh.

Arti Rajab secara spiritual dapat diringkas dalam tiga hal:

  1. Rajab sebagai Panggilan untuk Introspeksi. Banyak dari kita menjalani hidup tanpa berpikir. Kita bekerja, pulang, tidur, dan mengulanginya lagi. Rajab mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apa tujuan hidup saya? Seberapa dekat saya dengan Allah? Seberapa jujur saya dengan diri sendiri?
  2. Rajab sebagai Waktu untuk Menjaga Kesucian Hati. Sebagai salah satu bulan haram, Rajab dihormati sejak zaman Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Di bulan ini, kita dianjurkan untuk menghindari pertengkaran, memperbanyak do’a dan menjaga ucapan. Hal ini sejalan dengan konsep tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) yang menjadi inti tradisi tasawuf dalam NU.
  3. Rajab sebagai Tanda Bahwa Waktu Terus Berjalan. Rajab datang tanpa terasa dan mengingatkan kita bahwa waktu berlalu dengan cepat. Kita mungkin belum sempat memperbaiki diri, tetapi Rajab membuka kesempatan itu kembali. Allah selalu memberi kita kesempatan.

3. Refleksi Keimanan: Rajab Sebagai Cermin Kejujuran Diri

Ali Zain Aljufri

Ketika kita bercermin, kita melihat wajah kita. Ketika kita memasuki bulan Rajab, kita melihat jiwa kita.

  1. Mengukur Kedekatan dengan Tuhan. Bagaimana sholat kita? Bagaimana hubungan kita dengan orang tua? Apakah hati kita sering gelisah atau tenang? Rajab mengajak kita untuk bertanya hal-hal yang mungkin belum pernah kita tanyakan pada diri sendiri.
  2. Menyadari Keterbatasan Diri. Kadang kita terlalu sibuk berpura-pura kuat. Padahal, manusia adalah makhluk lemah yang selalu membutuhkan kasih sayang Allah. Rajab membuka ruang untuk mengakui kelemahan kita, bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menyembuhkan.
  3. Menghargai Waktu yang Semakin Sedikit. Setiap Rajab yang datang berarti jatah hidup kita berkurang satu tahun. Berapa banyak lagi Rajab yang akan kita temui? Pertanyaan ini bukan untuk membuat kita takut, tetapi untuk menyadarkan kita.

4. Rajab dalam Tradisi NU: Amalan yang Sederhana dan Bermakna

Ali Zain Aljufri

Tradisi NU dalam menyambut Rajab tidak berlebihan. Semuanya dilakukan secara perlahan dan menyentuh hati.

  1. Istighfar Rajab: Membersihkan Jiwa. Istighfar menjadi amalan utama di bulan ini. Ia seperti air yang membersihkan kotoran di hati. NU mengajarkan untuk melakukan amalan secara konsisten, meskipun sedikit. Bukan mengejar jumlah, tetapi mengejar kejernihan hati.
  2. Sholawat: Menghubungkan Diri dengan Rasūlullāh ﷺ. Rajab mengantarkan kita menuju peringatan Isra Mi’raj. Maka, memperbanyak sholawat bukan hanya tradisi, tetapi kebutuhan rohani. Sholawat menenangkan hati dengan cara yang sulit dijelaskan.
  3. Sedekah Diam-Diam: Jam’iyyah NU sangat memuliakan sedekah yang tidak diumumkan. Rajab menjadi waktu yang tepat untuk berbuat baik tanpa mengharapkan pujian. Misalnya, memberi sarapan untuk tetangga, menyisihkan uang untuk santri, atau membayar utang seseorang tanpa sepengetahuannya.
  4. Mujahadah dan Do’a Bersama: Di banyak pesantren, mujahadah Rajab dilaksanakan dengan sederhana. Do’a-do’a para Masyayikh terdahulu terasa begitu menyentuh. Rajab adalah bulan di mana Allah terasa dekat melalui do’a bersama.

5. Rajab Mengajak Kita Kembali

Ali Zain Aljufri

Kembali tidak selalu berarti kembali ke rumah. Kembali berarti kembali pada diri yang tenang, hati yang jujur, dan iman yang kuat.

  1. Kembali dari Kegelisahan. Sebagian besar kegelisahan muncul karena hati kita jauh dari Allah. Rajab menuntun kita untuk kembali mendekatkan diri kepada-Nya.
  2. Kembali dari Ambisi yang Tidak Terkendali. Ambisi itu baik, tetapi jika tidak diarahkan, ia akan menguras tenaga dan meninggalkan kehampaan. Rajab mengajarkan kita untuk seimbang. Bekerja keras, tetapi tetap menjaga hati.
  3. Kembali dari Lelahnya Dosa. Kita sering melakukan kesalahan yang sama. Rajab membuka jalan untuk bertobat. Tidak ada manusia yang sempurna. Yang Allah lihat adalah keberanian kita untuk kembali kepada-Nya.

6. Mengapa Rajab Begitu Menyentuh Hati?

Ali Zain Aljufri

Karena Rajab membawa pesan yang tidak terucap:

  • Allah masih memberi kita kesempatan!
  • Allah masih menunggu kita!

Jalan untuk kembali tidak pernah tertutup. Hati kita hanya perlu sedikit ketenangan untuk mendengarnya. Rajab menyentuh hati karena ia hadir saat kita tidak siap. Itulah bukti cinta-Nya.

7. Waktu yang Tepat untuk Memulai Kembali

Ali Zain Aljufri

Rajab bukan bulan untuk melakukan perubahan besar. Inilah bulan untuk memulai perubahan kecil yang akan tumbuh di bulan-bulan berikutnya. Mulailah dari:

  • Sholat tepat waktu
  • Menahan amarah
  • Menjaga ucapan
  • Membaca Al-Qur’an, meskipun hanya satu atau dua ayat
  • Memaafkan orang lain
  • Memperbaiki niat

Allah menyukai langkah kecil yang tulus.

8. Penutup: Rajab adalah Sapaan Cinta dari Allah

Ali Zain Aljufri

Rajab datang tanpa peringatan, tanpa seremoni dan tanpa kemeriahan. Namun, justru dalam kesunyian itulah Rajab membawa pesan yang paling penting: Allah memanggil kita untuk kembali.

Seperti pagi di Pelem yang ramai dengan persiapan haul, Rajab hadir dengan tenang di antara suara qasidah, langkah para santri dan jama’ah yang hadir. Ia tidak mengganggu atau memaksa, tetapi hanya mengetuk pintu hati kita dengan lembut.

Kini, pintu itu ada di hadapan kita. Pertanyaannya adalah: Apakah kita siap membukanya dan menjawab panggilan-Nya?

Ali Zain Aljufri
Ali Zain Aljufri Motivator di Komunitas Ngopi Cangkir

Post a Comment

Ruang Iklan 300 px × 50 px
Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px