Senja di Penghujung Rajab: Refleksi Hati Seorang Muslimah

Ali Zain Aljufri - Di pengujung bulan Rajab, ada suatu keheningan yang menyelimuti. Pergantian hari mungkin tidak ditandai dengan perubahan langit yang dramatis atau peristiwa besar yang menggemparkan dunia. Akan tetapi, di relung hati seorang muslimah, seringkali hadir sebuah getaran halus, sebuah bisikan lembut yang terasa jujur dan menenangkan. Bisikan ini tidak berteriak, tidak pula memaksa, melainkan hadir dengan tenang, seolah meminta untuk didengarkan.
Seorang muslimah duduk termenung di dekat jendela, secangkir teh hangat di tangannya perlahan mendingin. Telepon genggamnya tergeletak dengan layar menghadap ke bawah. Di luar sana, kehidupan berjalan seperti biasanya, namun di dalam dirinya, sebuah pertanyaan lirih bergema, Bagaimana kondisi hatimu menjelang datangnya Ramadhan? Inilah momen penting yang seringkali terlewatkan, sebuah kesempatan untuk merenung di penghujung Rajab.
Rajab bukan sekadar sebuah nama bulan dalam kalender Hijriah. Bagi banyak muslimah, Rajab adalah sebuah ruang hening, sebuah kesempatan untuk mempersiapkan diri secara batiniah, untuk menoleh ke dalam diri sebelum melangkah lebih jauh. Dan ketika Rajab hampir usai, bisikan lembut itu biasanya terdengar lebih jelas, terutama bagi mereka yang bersedia meluangkan waktu sejenak untuk berhenti dan mendengarkan.
1. Hubungan Hati Muslimah dan Bulan Rajab: Kepekaan yang Tersembunyi

Dalam berbagai kajiannya, Dr. Aisyah Dahlan seringkali menekankan bahwa wanita, khususnya muslimah, memiliki kepekaan emosional dan spiritual yang sangat mendalam. Hati seorang wanita, menurut beliau, ibarat tanah yang subur. Apa pun yang ditanam di sana akan tumbuh, termasuk rasa lelah, kecemasan dan luka yang mungkin tidak disadari.
Rajab hadir bukan untuk menghakimi seberapa banyak ibadah yang telah kita lakukan. Namun, Rajab datang untuk menyadarkan kita. Konsep renungan di akhir Rajab menjadi sangat relevan bagi muslimah dewasa, muslimah muda dan muslimah dari segala usia yang tengah mencari ketenangan batin.
Akhir Rajab seringkali memunculkan perasaan yang campur aduk, antara harapan dan penyesalan kecil, rindu yang belum terucap. Dan semua perasaan itu adalah wajar.
2. Kesadaran: Bisikan Lembut yang Membangunkan Jiwa

Bisikan yang hadir menjelang akhir Rajab bukanlah suara dari luar diri kita. Ia bukan tuntutan dari media sosial, bukan pula target ibadah yang dibagikan oleh orang lain. Ia adalah kesadaran yang bersifat personal.
Dr. Aisyah Dahlan seringkali menyampaikan bahwa suara hati seorang muslimah seringkali tertutup oleh kelelahan mental. Muslimah memiliki terlalu banyak peran, terlalu banyak ekspektasi, dan terlalu sering mengabaikan diri sendiri atas nama tanggung jawab.
Maka, ketika Rajab hampir berakhir, hati mulai berbicara:
- “Sudahkah aku memaafkan diriku sendiri?”
- “Apa yang sebenarnya membuatku merasa jauh dari Allah, bukan hanya secara ritual, tetapi secara rasa?”
- “Apakah aku hidup dengan kesadaran penuh, atau hanya sekadar bertahan?”
Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa hati kita masih hidup.
3. Muslimah dan Rajab: Antara Persiapan dan Penerimaan Diri

Bagi muslimah Rajab bukanlah sebuah label yang eksklusif, melainkan sebuah sebutan bagi muslimah yang menggunakan bulan Rajab sebagai waktu untuk mempersiapkan hati, bukan hanya mempersiapkan agenda.
Persiapan ini seringkali tidak terlihat, tidak selalu berupa target tilawah Al-Qur’an atau jadwal kajian yang padat. Kadang kala, persiapan terbaik adalah menerima keadaan diri kita saat ini.
Dalam perspektif psikologi Islami ala Dr. Aisyah Dahlan, penerimaan diri adalah pintu menuju perubahan. Seorang muslimah yang menerima kondisinya, baik itu rasa lelah, emosi, maupun kekurangannya, akan lebih mudah untuk bertumbuh secara spiritual.
Rajab mengajarkan kita untuk berkata jujur pada diri sendiri, tanpa drama atau perbandingan dengan orang lain.
4. Renungan di Akhir Rajab: Saat Keheningan Menjadi Ibadah

Beberapa muslimah mungkin merasa bersalah karena merasa bahwa bulan Rajab yang mereka jalani terasa biasa saja, tidak ada amalan ekstra atau lonjakan semangat yang berarti.
Namun, renungan di akhir Rajab mengingatkan kita pada satu hal penting: keheningan yang penuh kesadaran juga dapat bernilai ibadah.
Dr. Aisyah Dahlan seringkali menekankan bahwa ketenangan hati adalah fondasi dari keimanan. Hati yang terus-menerus tertekan akan sulit untuk mencapai kekhusyukan, meskipun aktivitas ibadah yang dilakukan sangat banyak.
Oleh karena itu, luangkanlah waktu sejenak untuk duduk dengan tenang, menarik napas panjang, dan mengakui rasa lelah yang mungkin sedang kita rasakan. Hal ini bukanlah sebuah kemunduran, melainkan sebuah proses pemulihan.
5. Pesan Halus yang Sering Terlewatkan

Menjelang akhir Rajab, ada pesan-pesan halus yang seringkali datang dalam bentuk yang sederhana:
- Rasa ingin menyendiri: Bukan karena membenci orang lain, melainkan karena jiwa kita membutuhkan ruang untuk bernapas.
- Air mata yang mengalir tanpa sebab yang jelas: Bukan karena kelemahan, melainkan karena pelepasan emosi yang selama ini tertahan.
- Keinginan untuk memperbaiki hubungan tertentu: Baik itu dengan orang tua, pasangan, anak, atau bahkan dengan diri sendiri.
- Dorongan untuk lebih jujur kepada Allah dalam do’a: Tidak lagi bertele-tele, melainkan langsung pada inti permasalahan.
Pesan-pesan ini seringkali diabaikan karena dianggap tidak produktif. Padahal, inilah inti dari motivasi seorang muslimah sejati, yaitu dorongan dari dalam diri, bukan paksaan dari luar.
6. Antara Luka Lama dan Harapan Baru

Rajab berada di antara Sya’ban dan Ramadhan, Rajab bagaikan sebuah ambang pintu. Di ambang pintu tersebut, seorang muslimah seringkali dihadapkan pada luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, penyesalan masa lalu, kesalahan yang masih membekas, dan do’a-do’a yang belum terkabul.
Dr. Aisyah Dahlan mengajarkan bahwa luka yang diakui akan melemah, sedangkan luka yang dipendam akan semakin menguat. Rajab memberikan kita kesempatan untuk mengakui luka tersebut, bukan untuk menghakimi diri sendiri.
Tidak semua luka harus sembuh saat ini juga, tetapi semuanya perlu dihadapi dengan kelembutan.
7. Seni Mendengarkan Diri Sendiri

Salah satu krisis terbesar yang dialami oleh muslimah modern adalah kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri. Kita terlalu sibuk untuk menjadi versi ideal diri kita menurut pandangan dunia, sehingga kita lupa untuk mendengarkan suara hati kita sendiri.
Akhir Rajab mengajak kita untuk kembali mendengarkan:
- Mendengarkan rasa lelah tanpa menyangkalnya
- Mendengarkan harapan tanpa mengejeknya
- Mendengarkan keimanan tanpa memaksanya untuk menjadi sempurna
Inilah seni yang jarang diajarkan, namun seringkali disinggung dalam pendekatan Dr. Aisyah Dahlan, yaitu keseimbangan antara logika, emosi, dan ruhani.
8. Motivasi yang Tidak Berisik

Motivasi seorang muslimah tidak selalu berbentuk semangat yang menggebu-gebu. Kadang kala, motivasi hadir sebagai ketenangan yang menyejukkan, sebagai sebuah keputusan kecil untuk:
- Tidur lebih awal
- Mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain
- Memperbaiki niat, bukan hanya sekadar menjalankan rutinitas
Akhir Rajab mengajarkan bahwa motivasi terbaik seringkali adalah motivasi yang paling sunyi, tidak perlu diumumkan kepada siapapun, cukup dijaga di dalam hati.
9. Melepas Kepergian Bulan Rajab

Rajab akan segera berlalu, sebagaimana bulan-bulan sebelumnya. Namun, seorang muslimah yang mendengarkan bisikan lembut di akhir Rajab tidak akan melangkah pergi dengan hati yang sama.
Mungkin belum sempurna, mungkin masih rapuh, namun lebih sadar. Dan kesadaran adalah sebuah anugerah.
10. Kesimpulan: Pesan di Akhir Rajab

Akhir Rajab bukanlah tentang apa yang gagal kita lakukan, melainkan tentang apa yang berhasil kita sadari, tentang suara lembut yang akhirnya kita dengar setelah sekian lama teredam.
Bagi muslimah dewasa, ini adalah pengingat untuk berdamai dengan proses kehidupan. Bagi muslimah muda, ini adalah ajakan untuk tidak tergesa-gesa menjadi cukup. Bagi muslimah dari segala usia, ini adalah undangan untuk kembali pulang ke hati.
Rajab mungkin akan segera berlalu, namun jika kita bersedia mendengarkan, pesannya akan tetap tinggal.
Kini, saat Rajab hampir usai, suara lembut apa yang sedang dibisikkan oleh hatimu? Dan beranikah kamu mendengarkannya dengan penuh kasih?
Post a Comment