Sunyi di Tengah Rajab: Untaian Hati yang Nyaris Terlewatkan

Ali Zain Aljufri - Saya masih ingat betul sebuah senja di pertengahan bulan Rajab. Bukan karena ada peristiwa penting, bukan pula karena kejadian luar biasa yang mengubah hidup. Justru sebaliknya: Saya hanya duduk seorang diri di beranda rumah yang kecil, sementara matahari perlahan tenggelam. Angin membawa aroma tanah basah dan suara lalu lalang motor terdengar seperti gema dari hiruk pikuk kehidupan yang tak pernah berhenti.
Dalam kesunyian itu, tiba-tiba saya merasa tidak benar-benar hadir dalam kehidupan saya sendiri. Ada kekosongan, seperti ruang hampa. Mungkin hati saya sudah berjalan terlalu jauh tanpa saya ajak bicara. Mungkin inilah yang dimaksud para Masyayikh: manusia sering lupa untuk berhenti, terlebih di bulan-bulan suci, termasuk pertengahan Rajab yang sering berlalu tanpa makna.
Itu hanya momen singkat. Namun, justru momen-momen singkat inilah yang seringkali paling jujur.
1. Pertengahan Rajab: Keheningan yang Sering Terabaikan

Rajab dikenal sebagai salah satu bulan yang istimewa. Banyak ulama’ menggambarkan Rajab sebagai waktu menanam, Sya’ban sebagai waktu menyiram dan Ramadhan sebagai waktu memetik hasil. Tetapi, apa yang terjadi saat pertengahan Rajab tiba? Kebanyakan dari kita, termasuk saya, hanya melanjutkan rutinitas seperti biasa. Terburu-buru. Berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Menyelesaikan daftar tugas tanpa sempat memperhatikan diri sendiri.
Padahal, pertengahan Rajab sering kali membawa energi tersendiri. Ada semacam keheningan spiritual yang hadir di tengah kesibukan. Keheningan yang mengajak kita untuk merasakan kembali langkah-langkah kecil dalam hidup. Keheningan yang mengingatkan bahwa jiwa kita tidak bisa terus dipaksa berlari tanpa diberi kesempatan untuk bernapas.
Dan di saat-saat seperti inilah catatan hati sering terlupakan. Catatan yang seharusnya kita tulis untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain, bukan untuk mencari perhatian. Catatan yang jujur, yang berasal dari dalam diri kita yang paling dalam.
2. Mengapa Hati Kita Mudah Lupa?

Kita hidup di zaman ketika segalanya terasa mendesak. Bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting pun terasa mendesak. Ponsel berdering. Pesan masuk. Tenggat waktu menunggu. Tuntutan sosial datang dari segala arah. Kita tidak sadar bahwa kita sedang menukar kesunyian dengan kebisingan yang tak pernah berhenti.
Habib Novel Alaydrus pernah menasihati, Hati itu harus diperiksa seperti tubuh. Diperiksa bukan karena ia rusak, tapi agar tidak rusak. Kalimat ini sederhana, namun sangat dalam. Rajab menjadi kesempatan untuk melakukan pemeriksaan batin yang sering kita abaikan.
Hati mudah lupa karena kita jarang menyapanya. Kita lebih sering memberikan informasi, bukan perenungan. Kita mendengarkan pendapat orang lain, tetapi jarang bertanya pada diri sendiri.
Hati mudah lupa karena ia tidak punya waktu untuk didengarkan.
3. Pertengahan Rajab sebagai Kesempatan untuk Merenung

Jika Anda merasa sudah lama tidak berbicara dengan diri sendiri, pertengahan Rajab adalah waktu yang tepat. Tidak perlu melakukan ritual yang rumit. Tidak perlu upacara khusus. Cukup berhenti sejenak, bahkan hanya lima menit. Dengarkan apa yang muncul di benak Anda.
Terkadang, perenungan di bulan Rajab tidak datang dari buku tebal atau kajian panjang, tetapi dari hal-hal sederhana: duduk diam. Mengingat kehidupan. Mengingat Tuhan. Mengingat diri sendiri yang sering kita lupakan.
Dalam kesunyian itu, kita mulai menyadari banyak hal:
- Kita sudah lama berjalan tanpa tujuan yang jelas
- Kita menyimpan kelelahan yang tidak pernah kita akui
- Kita merindukan kedamaian yang lebih dalam daripada sekadar kesuksesan
- Kita butuh waktu untuk menemukan kembali niat kita
Dan tentu saja, kita mulai mengenali kembali apa yang selama ini hampir terlupakan: suara hati.
4. Catatan Hati: Jurnal Kecil yang Memberi Dampak Besar

Saya memiliki kebiasaan kecil yang saya pelajari dari beberapa Masyayikh: menulis catatan hati setiap pertengahan Rajab, termasuk di blog ini. Tidak perlu panjang, tidak perlu indah, tidak harus sistematis. Yang terpenting adalah kejujuran. Tulis apa saja:
- Apa yang membuat Anda lelah?
- Apa yang membuat Anda bersyukur?
- Apa yang Anda takutkan?
- Apa yang ingin Anda perbaiki?
- Apa yang Anda harapkan dari Tuhan?
Jurnal ini tidak perlu dibaca oleh siapa pun. Bahkan oleh Anda sendiri, jika Anda tidak mau. Tetapi, proses menuliskannya adalah bentuk pengakuan bahwa hati Anda ada, dan Anda ingin mendengarkannya.
Hati yang didengarkan akan lebih mudah dituntun. Hati yang diperhatikan akan lebih mudah menjadi lembut. Dan hati yang lembut adalah pintu menuju banyak kebaikan.
5. Mengenali Tanda-Tanda dari Dalam Diri: Pelajaran dari Momen Kecil

Sering kali, Tuhan berbicara melalui momen-momen kecil, bukan kejadian-kejadian besar. Hanya saja, kita sering kali tidak peka. Kita menunggu keajaiban yang luar biasa, padahal tanda-tanda yang paling halus justru yang paling sering datang. Contohnya:
- Perasaan gelisah tanpa alasan yang jelas
- Keinginan mendadak untuk menyendiri
- Munculnya kerinduan untuk berdzikir
- Atau sekadar dorongan untuk menata kembali hidup.
Habib Novel Alaydrus pernah berpesan bahwa kegelisahan adalah panggilan untuk kembali kepada Tuhan. Bukan untuk dihindari. Bukan untuk ditutupi dengan aktivitas. Tetapi untuk direnungkan.
Pertengahan Rajab memberikan kesempatan untuk melakukan hal itu.
Ketika kita merasakan ketukan kecil di hati, sebenarnya itu adalah tanda kasih sayang. Tanda bahwa jiwa kita masih hidup. Tanda bahwa kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum Ramadan tiba dengan membawa gelombang spiritual yang lebih besar.
6. Menemukan Makna dalam Keheningan

Anda tidak perlu pergi ke tempat terpencil untuk menemukan keheningan. Keheningan bukan tentang tempat, tetapi tentang keberanian untuk tidak melarikan diri dari diri sendiri.
Di pertengahan Rajab ini, cobalah melakukan satu hal: hadir sepenuhnya.
- Hadir saat Anda minum segelas air
- Hadir ketika Anda menarik napas
- Hadir ketika Anda membaca satu ayat
- Hadir saat Anda mengucapkan Alhamdulillah
Kehadiran seperti ini, meskipun kecil, adalah cara untuk mengembalikan kesadaran spiritual yang sering hilang dalam rutinitas. Keheningan bukanlah kekosongan. Keheningan adalah ruang untuk mendengar apa yang biasanya tenggelam dalam kebisingan.
7. Mengosongkan Diri untuk Diisi

Banyak orang ingin merasa dekat dengan Tuhan, tetapi hati mereka penuh. Penuh dengan urusan duniawi. Penuh dengan ambisi. Penuh dengan kekhawatiran.
Bagaimana mungkin sesuatu yang sudah penuh bisa diisi dengan cahaya?
Pertengahan Rajab mengajak kita untuk mengosongkan sedikit ruang. Tidak perlu melakukan perubahan drastis. Cukup lepaskan satu beban pikiran dengan ikhlas. Cukup berikan satu maaf. Cukup akui satu kesalahan pada diri sendiri.
Mengosongkan diri bukan berarti kehilangan. Mengosongkan diri berarti memberikan kesempatan bagi kedamaian untuk datang.
8. Perenungan di Bulan Rajab: Apa yang Sebenarnya Kita Cari?

Jika Anda jujur pada diri sendiri, apakah yang selama ini Anda cari adalah kesibukan, kesuksesan, atau pengakuan?
Atau sebenarnya Anda hanya ingin merasa damai?
Kita mengejar banyak hal bukan karena kita benar-benar menginginkannya, tetapi karena kita takut terlihat berhenti. Takut dianggap tertinggal. Padahal, berhenti sejenak bukanlah kehilangan arah. Justru, itu adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa kita tidak sedang berlari ke tempat yang salah.
Rajab mengajak kita untuk bertanya:
- Apakah arah hidup saya sudah benar?
- Apakah niat saya masih tulus?
- Apakah saya sedang mendekatkan diri kepada Tuhan atau justru menjauh tanpa saya sadari?
- Apakah saya masih mengenal hati saya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak mudah dijawab. Tetapi, pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan membuka pintu menuju kehidupan yang lebih bermakna, yang sering kita rindukan.
9. Mengubah Renungan Menjadi Tindakan Nyata

Perenungan tanpa tindakan hanyalah omong kosong belaka. Maka, setelah merenungkan catatan hati di pertengahan Rajab, ada beberapa tindakan kecil yang bisa Anda lakukan sebagai amalan sederhana:
- Perbarui niat Anda: Perjelas tujuan Anda. Bersihkan arah Anda. Ucapkan dalam do’a.
- Mulailah dengan ibadah ringan yang dilakukan secara rutin: Meskipun hanya satu ayat setiap hari, itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
- Lakukan satu kebaikan secara diam-diam: Tanpa nama, tanpa pengakuan. Hanya Anda dan Tuhan yang tahu.
- Sisihkan waktu untuk berhening setiap hari: Lima menit saja cukup untuk kembali fokus pada diri sendiri.
- Bicaralah pada hati Anda: Dengarkan kelelahan, keinginan dan ketakutannya. Rawat hati Anda seperti Anda merawat tamu yang terhormat.
Tindakan-tindakan ini mungkin terlihat kecil, tetapi sangat ampuh. Karena perubahan besar tidak terjadi karena lompatan besar, tetapi karena tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
10. Menghargai Perjalanan, Bukan Hanya Tujuan

Di dunia modern, kita terlalu terobsesi dengan hasil, dengan kesuksesan, dengan status. Padahal, bulan-bulan suci ini mengajarkan kita untuk menghargai proses, perjalanan, perubahan dari hari ke hari.
Pertengahan Rajab memberikan kesempatan bagi kita untuk melihat perjalanan itu. Melihat bagaimana kita tumbuh, meskipun perlahan. Bagaimana kita berusaha untuk kembali, meskipun kita jatuh berkali-kali. Bagaimana kita masih memiliki harapan, meskipun kita sering merasa tidak sempurna.
Menurut para ulama’, yang terpenting bukanlah kesempurnaan ibadah, tetapi keteguhan hati dalam mencari Tuhan. Dan terkadang, pencarian itu justru terasa paling indah saat kita menemukan-Nya dalam keheningan kecil yang mungkin tidak terlihat.
11. Penutup: Keheningan yang Tak Boleh Dilupakan

Pertengahan Rajab adalah keheningan yang sering kita lewatkan. Catatan hati yang sering tidak sempat kita tulis. Perenungan kecil yang sering kita tunda hingga akhirnya kita kehilangan momen yang tepat.
Namun, jika Anda membaca tulisan ini sampai akhir, mungkin Anda sedang dipanggil untuk berhenti sejenak. Mungkin hati Anda sedang ingin berbicara. Mungkin ada pesan yang perlu Anda dengar, bukan dari saya, tetapi dari diri Anda sendiri dan dari Tuhan yang selalu lebih dekat dari yang kita kira.
Di tengah kesibukan yang tak pernah reda, apakah Anda sudah memberi ruang bagi diri Anda untuk benar-benar hadir? Apa yang ingin hati Anda sampaikan di pertengahan Rajab kali ini?
Post a Comment