Sya’ban 1447 H: Bulan yang Kita Abaikan, Tapi Diam-Diam Mencatat Segalanya

Ali Zain Aljufri - Saat senja terakhir di bulan Sya’ban merunduk perlahan, seolah langit menyimpan pesan yang belum terucap. Angin sepoi membawa aroma tanah bercampur dengan harapan yang belum sepenuhnya terwujud. Kita berdiri di perbatasan waktu, sering kali kurang menyadari bahwa bulan yang baru kita sambut sebulan lalu akan segera pergi tanpa banyak pemberitahuan. Tidak ada perayaan besar, tidak ada pelukan erat, bahkan tanpa kata-kata perpisahan yang terucap.
Begitulah Sya’ban 1447 H meninggalkan kita. Sebuah perpisahan yang datang dengan tenang, tidak menggebu-gebu, melainkan mengemas hari-harinya satu per satu dan beralih menjadi kenangan. Kita sering kali terlambat menyadari bahwa akhir Sya’ban tiba lebih cepat dari perkiraan.
1. Sya’ban: Cermin yang Terlupakan

Ada bulan-bulan yang kita nantikan dengan antusias, namun ada pula yang hanya lewat begitu saja di tengah kesibukan. Sya’ban seringkali termasuk kategori kedua. Padahal, bulan ini menyimpan kesempatan untuk beristirahat sejenak, mempersiapkan diri, dan menjadi lorong yang tenang menuju Ramadhan.
Namun, perpisahan dengan Sya’ban 1447 H terasa sedikit berbeda. Mungkin tahun ini kita merasa lebih lelah, atau mungkin iman kita sedang tidak stabil. Atau, mungkin baru di akhir bulan ini kita menyadari bahwa Sya’ban adalah cermin yang memantulkan kondisi hati kita sebenarnya: apakah kita benar-benar sudah siap menyambut Ramadhan, atau hanya sekadar berencana tanpa tindakan nyata.
Di penghujung Sya’ban, pertanyaan-pertanyaan ini muncul, terasa tajam namun juga lembut.
2. Untaian Kata yang Tak Sempat Terangkai

Seandainya Sya’ban dapat mendengar, mungkin kita akan membisikkan kata-kata sederhana:
Kau datang tanpa banyak suara,
Mengajarkan kami untuk diam dan bersiap.
Namun, kami terlalu sibuk dengan dunia,
Hingga lupa menghitung setiap detik keberkahanmu.
Mungkin kata-kata itu tidak sempurna, tetapi jujur. Perpisahan dengan Sya’ban 1447 H mengajarkan kita bahwa kita jarang menyiapkan kata-kata untuk sesuatu yang kita anggap akan selalu datang. Kita merasa masih ada tahun depan, masih ada kesempatan lain. Padahal, waktu bukanlah lingkaran yang bisa kita ulangi sesuka hati. Waktu berjalan lurus, maju dan tak pernah kembali.
3. Akhir Sya’ban: Antara Sesal dan Harap

Suasana di penghujung Sya’ban selalu terasa campur aduk. Ada harapan menyambut Ramadhan, tetapi juga sedikit penyesalan. Sudahkan kita memperbanyak istighfar? Sudahkan kita memperbaiki sholat yang sering terburu-buru? Sudahkan kita memperbaiki hubungan yang renggang?
Refleksi diri seringkali terasa mendesak ketika sesuatu akan pergi, seperti kita baru merindukan seseorang setelah ia tidak lagi ada di dekat kita. Begitu pula dengan Sya’ban, yang seolah berbisik, Apa yang sudah kamu siapkan selama aku pergi? Dan kita pun terdiam!
4. Mengapa Perpisahan Sya'ban 1447 H Terasa Sunyi?

Karena ini bukan hanya tentang waktu, tetapi juga tentang kesiapan hati. Sya’ban adalah bulan di mana amal perbuatan kita dilaporkan, momen spiritual yang seharusnya membuat kita lebih waspada, lembut dan sadar diri. Namun, kenyataannya seringkali rutinitas harian mencuri perhatian kita, dan godaan dunia terasa lebih kuat daripada panggilan spiritual.
Perpisahan dengan Sya’ban 1447 H menjadi pengingat bahwa persiapan spiritual tidak terjadi secara otomatis. Ia membutuhkan kesadaran, keputusan dan latihan-latihan kecil yang dilakukan secara konsisten, seperti membaca Al-Qur’an meski hanya satu halaman, menambah satu rakaat sholat sunnah, atau menahan diri dari satu amarah saja. Hal-hal kecil, tetapi berdampak besar.
5. Syair sebagai Jembatan Hati

Di tengah kesunyian akhir Sya’ban, syair menjadi bahasa yang menenangkan. Ia tidak menggurui, melainkan mengalir dan membungkus kesadaran dengan keindahan.
Kami kira engkau biasa saja,
Ternyata engkau adalah ruang rahasia.
Kami kira engkau hanya jeda,
Ternyata engkau adalah pintu menuju cahaya.
Melalui syair itu, kita belajar menerima bahwa perpisahan tidak selalu berarti kehilangan, tetapi bisa menjadi momentum untuk perubahan. Perpisahan dengan Sya’ban 1447 H tidak harus berakhir dengan rasa bersalah, melainkan bisa menjadi tekad baru dan komitmen yang lebih kuat dalam menyambut Ramadhan, serta menjadi awal dari refleksi diri yang lebih mendalam.
6. Refleksi Diri: Apa yang Sebenarnya Kita Cari?

Saat bulan berganti, bukan hanya kalender yang berubah, tetapi juga kesempatan dan peluang. Refleksi diri bukan hanya tentang merenungi dosa, tetapi juga tentang keberanian untuk bertanya: Apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini? Apakah kita hanya mengejar dunia, atau juga mempersiapkan bekal untuk akhirat?
Perpisahan dengan Sya’ban 1447 H memberikan ruang untuk merenungkan pertanyaan ini. Dalam kesunyian tersebut, kita dapat menyadari bahwa iman bukanlah proyek musiman yang hanya ramai di awal Ramadan lalu meredup setelahnya. Iman adalah perjalanan panjang dan Sya’ban adalah salah satu perhentian penting yang sering kita lewatkan tanpa kita sadari.
7. Belajar Mengucapkan Selamat Tinggal dengan Sadar

Ada seni dalam mengucapkan perpisahan, bukan dengan tangisan berlebihan, tetapi dengan kesadaran penuh. Bayangkan jika di akhir Sya'ban, kita benar-benar duduk sejenak, mematikan semua perangkat elektronik, menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dalam hati:
Terima kasih, bulan Sya’ban tahun 1447 H! Maafkan kelalaian kami. Semoga jejak-jejak kecil kebaikan yang sempat kami lakukan menjadi saksi.
Kalimat sederhana ini mungkin terdengar biasa, tetapi dapat mengubah cara kita memandang waktu. Kita tidak lagi menjadi penonton pasif, tetapi menjadi peziarah yang sadar akan setiap langkah yang diambil.
8. Mengubah Penyesalan Menjadi Persiapan Nyata

Jika perpisahan dengan Sya’ban 1447 H meninggalkan rasa belum maksimal, jangan biarkan hal itu hanya menjadi penyesalan. Jadikan itu sebagai motivasi. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan:
- Buat catatan akhir bulan Sya’ban, tuliskan tiga hal yang sudah baik dan tiga hal yang perlu diperbaiki.
- Tentukan satu kebiasaan kecil yang akan dipertahankan selama Ramadhan, jangan terlalu banyak sekaligus.
- Perbanyak do’a di malam terakhir Sya’ban, memohon kesiapan hati.
- Lakukan refleksi diri secara berkala, setidaknya seminggu sekali, agar kesadaran tetap terjaga.
Langkah-langkah ini sederhana, tetapi konsistensi adalah kuncinya.
9. Perpisahan yang Menguatkan, Bukan Melemahkan

Tidak semua perpisahan harus membuat kita merasa rapuh. Ada perpisahan yang justru menguatkan. Perpisahan dengan Sya’ban 1447 H dapat menjadi pengingat bahwa waktu adalah amanah, bahwa setiap bulan memiliki karakteristiknya sendiri, dan bahwa kita tidak selalu memiliki kesempatan untuk mengulang hal yang sama di tahun berikutnya.
Oleh karena itu, jangan biarkan Sya’ban berlalu tanpa makna. Jika Sya’ban sudah berlalu, simpanlah pelajaran yang didapat. Jika masih ada beberapa jam tersisa, isilah dengan do’a, istighfar dan kesadaran yang lebih penuh.
10. Kata-kata Terakhir untuk Sya’ban 1447 H

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan syair sederhana:
Pergilah, wahai bulan yang sunyi,
Tinggalkan kami dengan cermin kejujuranmu.
Jika kami lalai, bangunkan sadar kami.
Jika kami lemah, kuatkan kami agar teguh.
Dan bila kelak kami bertemu lagi,
Ku pastikan jiwa ini lebih siap.
Syair ini bukan hanya rangkaian kalimat, tetapi juga niat dan harapan yang diuntai dalam keheningan. Pada akhirnya, perpisahan dengan Sya’ban 1447 H bukan hanya tentang kehilangan satu bulan, tetapi tentang bagaimana kita memaknai waktu yang diberikan, dan tentang seberapa sadar kita menjalani setiap detik yang tampak biasa, padahal sarat makna. Kita mungkin tidak pernah benar-benar siap untuk berpisah, tetapi kita selalu memiliki pilihan untuk belajar darinya.
11. Kesimpulan

Perpisahan Sya’ban 1447 H adalah momen reflektif yang sering terlewatkan. Ia datang tanpa seremoni, pergi tanpa pemberitahuan, tetapi menyimpan pelajaran mendalam tentang kesiapan spiritual, kesadaran waktu, dan refleksi diri. Melalui kata-kata bijak dan perenungan di akhir bulan Sya'ban, kita diajak untuk tidak hanya melewati waktu, tetapi juga menghayatinya. Perpisahan ini bisa menjadi titik balik, mengubah penyesalan menjadi tekad dan kelalaian menjadi komitmen baru dalam perjalanan iman kita.
12. Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Karena Sya’ban adalah bulan persiapan menuju Ramadhan. Ketika Sya’ban berakhir, banyak orang baru menyadari bahwa waktu persiapan telah berlalu, dan muncul perasaan belum maksimal dalam beribadah.
Akhir bulan Sya’ban menjadi momen evaluasi diri, memberikan ruang untuk menilai sejauh mana kesiapan spiritual kita sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Perbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, memperbaiki kualitas sholat dan memperkuat niat untuk menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih.
Karena kata-kata mampu menyentuh emosi dan kesadaran batin secara lebih lembut dan mendalam, sehingga pesan refleksi diri lebih mudah meresap.
Bahwa waktu adalah amanah. Setiap bulan membawa peluang kebaikan yang tidak selalu terulang dengan kualitas yang sama. Kesadaran dan kesiapan hati adalah kunci agar setiap perpisahan menjadi penguat, bukan penyesalan.
Post a Comment