Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px

Puasa di bulan Sya’ban dan Kaitannya dengan Puasa Ramadhan, Begini Penjelasannya!

Table of Contents
Ilham Jadab

Ali Zain Aljufri - Di suatu senja biasa, tanpa tanda-tanda khusus di langit, tiba-tiba grup keluarga ramai dengan pesan. Ada yang mengingatkan untuk puasa Sya’ban, ada yang bertanya soal niatnya, bahkan ada yang kebingungan, “Kalau tidak puasa Sya’ban, apakah puasa Ramadhan nanti jadi kurang utama?” Pertanyaan seperti ini selalu muncul setiap tahun, seolah Sya’ban memang jadi bulan tanya jawab sebelum Ramadhan tiba.

Sya’ban memang bulan yang unik. Ia datang sebelum Ramadhan, menjadi masa persiapan. Tidak sepopuler Ramadhan, tidak seistimewa Dzulhijjah, tetapi justru di sinilah banyak orang keliru. Apakah puasa Sya’ban itu ada hubungannya dengan puasa Ramadhan? Apakah seperti syarat yang tidak tertulis? Atau hanya anjuran biasa yang sering disalahartikan?

Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut dengan penjelasan fiqih ringan, ala NU. Tujuannya adalah untuk meluruskan pemahaman tanpa menghakimi.

1. Sya’ban: Bulan yang Tak Boleh Dilupakan

Ilham Jadab

Dalam kalender Islam, Sya’ban berada persis sebelum Ramadhan. Karena itu, sering dianggap sekadar “bulan peralihan”. Padahal, Rasūlullāh ﷺ sangat memperhatikan bulan ini.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Usamah bin Za’id, Nabi ﷺ bersabda bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan orang, padahal di bulan itulah amal-amal kita diangkat kepada Allah. Oleh karena itu, Nabi ﷺ suka berpuasa di bulan Sya'ban.

Bagi para Masyayikh Nahdlatul Ulama’, hadits ini sangat penting. Sya’ban bukan sekadar bulan biasa, bukan hanya pengantar menuju Ramadhan. Sya’ban adalah waktu untuk merenung, saat amal kita diangkat dan saat Nabi Muhammad ﷺ memperbanyak puasa sunnah.

Namun, penting untuk diingat bahwa perhatian Rasūlullāh ﷺ ini tidak serta merta membuat puasa Sya’ban jadi wajib. Di sinilah ilmu fiqih berperan untuk menjaga keseimbangan.

2. Hukum Puasa Sya’ban Menurut Fiqih

Ilham Jadab

Pertanyaan yang sering muncul adalah soal hukumnya. Dalam fiqih Islam, terutama dalam mazhab Syafi’i yang diikuti oleh mayoritas warga NU, puasa Sya’ban itu hukumnya sunnah. Jadi, kalau dikerjakan dapat pahala, kalau ditinggalkan tidak berdosa.

Ini poin yang penting! Puasa Sya’ban itu bukan wajib, bukan syarat dan bukan penentu sah atau tidaknya puasa Ramadhan.

NU selalu menekankan bahwa ibadah sunnah itu tidak boleh dianggap seperti ibadah wajib. Jika seseorang tidak berpuasa di bulan Sya’ban, ia tetap bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh dan sah.

Kesalahan yang sering terjadi adalah ketika puasa Sya’ban dianggap sebagai “latihan wajib”. Padahal, dalam fiqih, latihan itu tujuannya untuk mendapatkan hikmah, bukan untuk menjadi suatu kewajiban.

3. Keterkaitan Puasa Sya’ban dan Ramadhan

Ilham Jadab

Lalu, kenapa dulu orang-orang sangat menganjurkan puasa di bulan Sya’ban? Di sinilah hubungan keduanya menjadi menarik!

Hubungannya itu bukan soal kewajiban, tetapi soal persiapan. Puasa Sya’ban itu bisa membantu seseorang untuk menata kembali kebiasaan ibadahnya. Tubuh yang sudah lama tidak berpuasa akan kembali belajar menahan lapar. Jiwa yang jarang dikekang mulai dilatih untuk bersabar.

Namun, NU selalu mengingatkan bahwa ini adalah manfaat, bukan syarat.

Seseorang yang tidak puasa Sya’ban tetap bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan baik. Sebaliknya, orang yang rajin puasa Sya’ban pun belum tentu kualitas puasanya lebih baik kalau niat dan caranya salah.

Jadi, hubungan antara puasa Sya’ban dan Ramadhan itu lebih tepat disebut sebagai hubungan etika ibadah, bukan hubungan hukum.

4. Larangan Puasa Menjelang Ramadhan

Ilham Jadab

Di masyarakat, sering ada kebingungan soal larangan puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan. Memang ada hadits Nabi Muhammad ﷺ yang melarang hal tersebut, kecuali bagi orang yang sudah biasa berpuasa sunnah.

Lalu, bagaimana jika seseorang berpuasa di akhir bulan Sya’ban?

Menurut penjelasan para ulama’ Syafi’iyyah, larangan itu berlaku bagi orang yang sengaja ingin berpuasa dengan niat “berjaga-jaga” supaya tidak salah dalam menentukan awal Ramadhan. Ini disebut sebagai shaum yaum asy-syak.

Tetapi, jika seseorang memang sudah biasa berpuasa sunnah (misalnya Senin-Kamis) maka ia tetap boleh berpuasa meskipun bertepatan dengan akhir bulan Sya’ban.

Di sini, pendekatan NU sangat khas. Tidak kaku. Niat, kebiasaan dan keadaan menjadi pertimbangan yang utama.

5. Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban

Ilham Jadab

Sya’ban punya nilai spiritual yang sangat dalam. Hadits tentang amal yang diangkat menjadi dasar utama keutamaannya.

Puasa pada saat amal diangkat itu adalah bentuk sopan santun kita kepada Allah. Seolah-olah seorang hamba ingin berkata:

“Ya Allah, inilah diriku saat Engkau menilai amal-amalku.”

Selain itu, Sya’ban juga dikenal dengan malam Nisfu Sya’ban. Dalam tradisi NU, malam ini diisi dengan ibadah, do’a dan introspeksi diri, tanpa melebih-lebihkan soal pahala yang pasti.

Puasa yang dilakukan di sekitar pertengahan bulan Sya’ban juga dianggap sebagai bagian dari rangkaian ibadah sunnah, bukan merupakan ritual yang wajib atau penentu keselamatan.

6. Jangan Membebani Diri!

Ilham Jadab

Salah satu tujuan pendidikan fiqih ala NU adalah untuk membebaskan umat dari beban yang tidak perlu. Ibadah sunnah itu seharusnya mendekatkan diri kepada Allah, bukannya malah membebani.

Jika seseorang puasa Sya’ban dengan semangat, itu bagus. Kalau tidak, juga tidak masalah. Yang penting, jangan sampai merasa bersalah tanpa alasan yang jelas.

Apalagi, kalau sampai kelelahan di bulan Sya’ban, lalu masuk bulan Ramadhan tanpa tenaga. Dalam fiqih, menjaga kekuatan untuk melakukan ibadah wajib itu jauh lebih utama.

NU selalu mengajarkan untuk memprioritaskan yang wajib. Yang sunnah itu menyusul dengan bijak.

7. Sya’ban sebagai Ruang Persiapan

Ilham Jadab

Jika Ramadhan adalah bulan perjuangan, maka Sya’ban adalah ruang sunyi sebelum berperang. Di bulan ini, umat Islam diajak untuk berbenah diri secara perlahan.

Puasa sunnah adalah salah satu caranya, tetapi bukan satu-satunya. Memperbaiki sholat, melunasi utang, meminta maaf dan membenahi niat juga merupakan bagian dari persiapan.

Inilah pesan penting yang sering dilupakan. Persiapan Ramadhan itu tidak hanya soal lapar dan haus, tetapi juga soal hati.

8. Menjelang Ramadhan 1447 H

Ilham Jadab

Menjelang Ramadhan, diskusi tentang puasa Sya’ban kembali ramai diperbincangkan. Media sosial penuh dengan poster, jadwal dan ajakan untuk berpuasa. Semuanya bermaksud baik.

Namun, memberikan pemahaman yang benar tetap penting agar umat tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat formalitas. Jangan sampai ibadah sunnah berubah jadi beban sosial. Jangan juga sampai Ramadhan disambut dengan perasaan cemas yang tidak perlu.

Sya’ban itu seperti undangan, bukan ujian masuk.

9. Kesimpulan

Ilham Jadab

Puasa di bulan Sya’ban memang terkait dengan puasa Ramadhan. Keterkaitan puasa sya’ban dan ramadhan itu bersifat persiapan spiritual dan batin, bukan merupakan kewajiban atau syarat sah.

Menurut pandangan NU, puasa Sya’ban adalah ibadah sunnah yang dianjurkan dengan bijak. Jika dikerjakan, itu baik. Jika ditinggalkan, tidak berdosa. Yang paling penting adalah menjaga keseimbangan, niat dan prioritas agar Ramadhan bisa dijalani dengan tenang dan bermakna.

10. Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah puasa Sya’ban itu wajib sebelum Ramadhan?

Tidak! Puasa Sya’ban itu hukumnya sunnah dan tidak memengaruhi sahnya puasa Ramadhan.

Apakah kalau tidak puasa Sya’ban, puasa Ramadhannya jadi kurang sempurna?

Tidak! Kesempurnaan puasa Ramadhan itu ditentukan oleh niat, pelaksanaan, dan bagaimana kita bersikap selama bulan Ramadhan itu sendiri.

Bolehkah puasa di akhir bulan Sya’ban?

Boleh, bagi yang sudah terbiasa puasa sunnah. Tidak dianjurkan kalau niatnya untuk berjaga-jaga menentukan awal Ramadhan.

Apa keutamaan puasa di bulan Sya’ban?

Puasa di bulan ini bertepatan dengan diangkatnya amal kita kepada Allah, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad ﷺ.

Bagaimana sikap NU terhadap ibadah di bulan Sya’ban?

NU menganjurkan sikap yang tidak berlebihan: mengamalkan sunnah dengan niat yang baik tanpa memaksakan diri sendiri atau orang lain.

Semoga penjelasan ini bisa membantu menenangkan hati dan meluruskan pemahaman kita menjelang Ramadhan. Semoga kita semua bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan dalam keadaan siap, dan bukan dalam keadaan tertekan. Amiin Ya Robbal ‘Alamiin!

Ali Zain Aljufri
Ali Zain Aljufri Motivator di Komunitas Ngopi Cangkir

Post a Comment

Ruang Iklan 300 px × 50 px
Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px