Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px

Syair Perahu dan Rahasia Pelayaran Menuju Tuhan

Table of Contents
Ali Zain Aljufri

Ali Zain Aljufri - Setelah beberapa waktu lalu saya menulis artikel tentang “Mengapa Puisi Lama Tak Pernah Mati?”, hari ini saya ingin mengajak Anda berlayar; bukan dengan layar dan kemudi, tapi dengan hati dan makna.

Perjalanan ini diawali dengan sebuah puisi dari masa lalu, namun bagaikan gaung hantu yang masih menggetarkan suasana kita saat ini: "Syair Perahu" karya Syaikh Hamzah Fansuri.

Bagi sebagian besar orang, puisi hanyalah sekumpulan kata-kata indah yang dirangkai Namun bagi Syaikh Hamzah Fansuri, kata-kata ibarat kapal spiritual yang membawa jiwa Anda dalam perjalanan menuju Tuhan melintasi lautan luas kehidupan.

Di tangan beliau, sastra bukan sekadar indah; itu adalah peta harta karun tersembunyi untuk hal-hal bagus

1. Syaikh Hamzah Fansuri : Sufi, Penyair dan Petualang Makna

Ilustrasi AI Lukisan Syaikh Hamzah Fansuri
Ilustrasi: Lukisan AI wajah Syaikh Hamzah Fansuri

Nama Syaikh Hamzah Fansuri sering disebut-sebut sebagai tokoh besar dalam sejarah sastra Melayu dan tasawuf. Ia hidup sekitar abad ke-16 hingga awal abad ke-17 dan dikenal sebagai salah satu penyair sufi paling awal di nusantara.

Dalam banyak karya (khususnya Syair Perahu, Syair Dagang dan Syair Burung Pingai) Syaikh Hamzah tidak hanya berbicara tentang kehidupan, namun tentang perjalanan ruh manusia dalam mencari asal usulnya: Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Menariknya, kata “Fansuri” sendiri menandakan identitas sekaligus pengarahan spiritual. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa Fansur mungkin saja Barus, pelabuhan kuno di pantai barat Sumatra, yang pernah menjadi pusat perdagangan dan spiritual.

Jadi, “perahu” Syaikh Hamzah berlayar dari pelabuhan itu; tidak hanya melintasi lautan luas, tapi juga perairan dalam dan misterius di dalamnya

2. Syair Perahu: Alegori Pelayaran Jiwa.

Ilustrasi AI Lukisan Syaikh Hamzah Fansuri
Ilustrasi: Lukisan AI wajah Syaikh Hamzah Fansuri

Yuk, kita simak sekilas salah satu baris kalimat keren dari Syair Perahu

“Perahu kamu perbaikilah,
Layar dipasang, kemudi perbetulkan,
Dayung dibawa ke tengah muara,
Supaya selamat sampai ke pulau idaman.”

Dalam empat baris ini, makna mendalam dari syair perahu itu seperti mengatakan bahwa kita semua adalah pelaut, yang mengarahkan tubuh kita melewati gelombang kehidupan yang liar. Perahu harus diperbaiki, layar dan kemudi perlu diubah; itu seperti tanda untuk membersihkan tindakan Anda, memiliki niat baik dan mengendalikan nafsu.

Tanpa semua itu, perjalanan spiritual akan tenggelam sebelum mencapai “pulau idaman”; yaitu Tuhan, sumber segala kedamaian.

Syaikh Hamzah tidak menulis seperti dia sedang merendahkan siapa pun. Dia mengobrol seperti seorang teman lama yang duduk-duduk di pantai, menatap laut di kejauhan, dan bergumam pelan:

“Hati-hati dengan ombak dunia, Nak! Jangan lupa perbaiki perahumu.”

3. Lautan Dunia dan Gelombang Hasrat

Ilustrasi AI Lukisan Syaikh Hamzah Fansuri
Ilustrasi: Lukisan AI wajah Syaikh Hamzah Fansuri

Dalam tasawuf, dunia bukan sekadar sesuatu yang harus ditinggalkan saat meninggal, melainkan tentang menatanya dengan benar di kepala. Syaikh Hamzah Fansuri menggunakan laut sebagai simbol kehidupan duniawi yang luas, indah, namun berbahaya.

Di lautan itu nafsu bagaikan ombak yang liar, dan setan bagaikan badai yang menggoyahkan kompas hati.

Hidup di abad ke-21 ini, kita dikelilingi teknologi dan selalu bergerak. Namun gelombang yang kita hadapi masih sama: nafsu, keserakahan, ego dan kehilangan arah.

Jadi syair perahu benar-benar cocok untuk generasi muda Muslim yang mencari pemikiran mendalam dan ketenangan.

Syaikh Hamzah Fansuri seolah berkata:

“Kendalikan hatimu sebelum dunia menguasaimu.”

Jika kita tidak mengawasi perahu kita, kita akan terhanyut begitu saja; bukan karena ombaknya yang besar, tapi karena kita membiarkan kelalaian kecil sehingga mudah tergelincir.

4. Peta Spiritualitas dalam Kata-kata

Ilustrasi AI Lukisan Syaikh Hamzah Fansuri
Ilustrasi: Lukisan AI wajah Syaikh Hamzah Fansuri

Bagi mereka yang menyukai kajian Islam dan spiritual, Syair Perahu lebih dari sekedar buku jadul, namun juga merupakan panduan refleksi yang menenangkan.

Di setiap baitnya, Hamzah Fansuri menyusun lapisan makna seperti ombak yang saling berkejaran.

Perahu = Tubuh manusia
Laut = Kehidupan dunia
Kemudi = Akal
Layar = Iman
Mendayung = Amal shaleh
Pulau = Tuhan (Makrifatullah)

Beliau mengajarkan tasawuf dengan metafora yang lembut dan mudah diingat.

Beliau tidak menyuruh manusia langsung menuju Tuhan tanpa bekal, namun mengingatkan bahwa perjalanan ini membutuhkan syarat dan alat.

Syaikh Hamzah memadukan puisi dengan syari’at dalam suasana ini. Beliau menegaskan, kata-kata harus indah karena setia pada keimanan. Setiap bait bukan sekadar kata-kata yang dirangkai, melainkan seperti sesi latihan spiritual yang membuat Anda selaras dengan suasana yang lebih tinggi.

5. Tasawuf sebagai Pelayaran Cinta

Ilustrasi AI Lukisan Syaikh Hamzah Fansuri
Ilustrasi: Lukisan AI wajah Syaikh Hamzah Fansuri

Inti ajaran Syaikh Hamzah Fansuri adalah tentang cinta. Bagi beliau, perjalanan menuju Tuhan bukan tentang takut mendapat masalah, tapi tentang ingin bergaul dengan Sang Pencipta. Beliau menulis:

“Janganlah engkau lalai daripada Tuhan,
Dunia ini tiada kekal,
Barang siapa mengenal diri,
Maka mengenal Tuhannya yang Wujud Tunggal.”

Inilah inti dari tasawuf: mengenal diri sendiri dengan baik agar bisa mengenal Allah lebih dalam lagi. Syaikh Hamzah mencoba mengajak kita untuk melihat bahwa kehidupan hanyalah sebagian kecil dari lautan yang besar dan mengagumkan yang semuanya tentang ketuhanan.

Pesan ini seperti sebuah tempat yang sejuk dan menenangkan bagi generasi muda Muslim yang mencoba menemukan jalan mereka di dunia yang liar saat ini. Dia seperti, hidup bukan hanya tentang berjuang melawan dunia luar, tetapi juga tentang mengarungi lautan batin; menyiapkan layar iman, mengarahkan akal budi dan memastikan perahu hati tidak bocor karena diabaikan.

6. Menyimak Suara Zaman dari Syair Lama

Ilustrasi AI Lukisan Syaikh Hamzah Fansuri
Ilustrasi: Lukisan AI wajah Syaikh Hamzah Fansuri

Mengapa syair perahu masih menyentuh hati orang meski sudah ratusan tahun berlalu? Karena Syaikh Hamzah Fansuri menulis bukan dari kecerdasan belaka, melainkan dari kejernihan hati. Beliau sangat memahami, kami selalu mencari petunjuk: dulu kami bernavigasi melalui bintang-bintang di atas, sekarang kami menelusuri ponsel kami untuk mendapatkan sedikit bantuan.

Tapi jalan sebenarnya masih sama; langsung menuju Tuhan

Puisi-puisi beliau mengajarkan keseimbangan: Antara dunia dan akhirat, akal dan perasaan, ilmu dan cinta. Di dunia yang penuh kebisingan, syair perahu adalah tempat untuk bersantai dan melepas penat.

Membacanya ibarat menepi ke tepian jiwa, mendengar suara deburan ombak, dan bertanya dalam hati:

“Sudah siapkah perahuku berlayar?”

7. Warisan Sastra, Warisan Jiwa

Ilustrasi AI Lukisan Syaikh Hamzah Fansuri
Ilustrasi: Lukisan AI wajah Syaikh Hamzah Fansuri

Syair Perahu adalah tonggak penting dalam sastra Indonesia di masa lalu. Ia tidak hanya menghasilkan sajak empat baris yang keren ini, tetapi juga menunjukkan bagaimana buku dapat menghubungkan kita pada sesuatu yang lebih dalam.

Syaikh Hamzah Fansuri memadukan indahnya bahasa Melayu dengan ajaran tasawuf yang mendalam. Beliau menunjukkan bahwa kearifan Islam benar-benar bisa mengguncang suasana puitis dan dingin serta sangat dekat dengan suasana lokal.

Warisan ini menginspirasi banyak penyair setelahnya (dari Nuruddin ar-Raniri hingga Raja Ali Haji) dan bahkan bergema dalam karya sastra modern.

Tapi sebenarnya ini bukan tentang bagaimana puisi itu terlihat, ini tentang hati dan jiwa yang dimilikinya. Beliau mengajak kita untuk mengambil lompatan dan melihat hidup sebagai petualangan spiritual, bukan sekadar rutinitas membosankan tanpa tujuan apa pun.

8. Menjadi Pelaut di Samudra Hati

Ilustrasi AI Lukisan Syaikh Hamzah Fansuri
Ilustrasi: Lukisan AI wajah Syaikh Hamzah Fansuri

Jika kita menyerap hikmah Syaikh Hamzah Fansuri, hidup bukan sekedar pantai yang sejuk, tapi lautan luas. Tuhan juga memberi kita perahu (tubuh, pikiran dan hati) dan peta (wahyu). Namun setiap pelaut harus mempunyai keberanian untuk berangkat.

Puisi tidak bisa hanya dibaca, harus dijalani: memperbaiki perahu, meluruskan layar iman, mendayung sedekah dan mengarahkan menuju Allah.

Di dunia di mana berita ibarat ombak yang tak ada habisnya, perdebatan sengit dan kehidupan selalu sibuk. Syair Perahu ibarat sekoci, membuat kita tetap bertahan dan tidak membiarkan kita tenggelam dalam kekacauan. Berlayar adalah tentang mengenal diri sendiri dan Tuhan pada tingkat yang lebih dalam, bukan hanya seberapa jauh kita melangkah.

9. Kesimpulan: Sebuah Perjalanan yang Tak Pernah Berakhir

Ilustrasi AI Lukisan Syaikh Hamzah Fansuri
Ilustrasi: Lukisan AI wajah Syaikh Hamzah Fansuri

Syair Perahu karya Syaikh Hamzah Fansuri bukan sekedar peninggalan sastra kuno, melainkan peta spiritual yang abadi.

Dia membantu orang-orang (dari satu generasi ke generasi berikutnya) memperbaiki “kapal” mereka sendiri dan berlayar menuju orang besar dengan pengetahuan penuh.

Di setiap gelombang kehidupan, di setiap badai cobaan, kita selalu punya pilihan: menjadi penumpang pasif yang sekadar mengapung, atau pelaut sejati yang mengemudikan dengan penuh keyakinan.

Dan ketika keheningan malam mulai mengambil alih, dengan segala kebisingan yang hilang, mungkin pertanyaan Syaikh Hamzah Fansuri masih berbisik lembut dalam jiwa kita: Sudahkah kamu memperbaiki perahumu hari ini?

Ali Zain Aljufri
Ali Zain Aljufri Motivator di Komunitas Ngopi Cangkir

Post a Comment

Ruang Iklan 300 px × 50 px
Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px